Denny JA Prediksi PPP Karam, Kecuali Rekrut Gatot Atau Sandi

Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 11:42 WIB
Merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, Kantor DPP PPP, Jakarta, dihiasi dengan pemasangan bendera Merah Putih Raksasa.
Foto: Kantor DPP PPP. (Rengga Sencaya/detikcom).
Jakarta -

Lembaga Survei Indonesia (LSI) Network Denny JA memprediksi PPP akan karam di Pemilu 2024 bila tak menggaet tokoh yang punya pengaruh besar ke publik. Ada dua nama besar yang dinilai bisa menjadi magnet bagi PPP, yakni Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan mantan cawapres Sandiaga Uno.

"Dua tokoh nasional, Jenderal Gatot Nurmantyo (GN) dan Sandiaga Salahudin Uno (SSU) sangat potensial menjadi magnet public yang dapat mengantar Partai Persatuan Pembangun (PPP) kembali bangkit sebagai parpol besar. Jika tak ada , PPP hanya akan menjadi kapal tua yang sebentar lagi karam," ujar Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah dalam keterangan tertulis, Rabu (26/8/2020).

Toto menilai berbagai program dan sistem organisasi yang ditawarkan PPP tak akan banyak membawa efek keterpilihan jika tak ada figur moncer sebagai leader. Untuk itu, PPP harus mencari tokoh yang punya daya tarik besar.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada sejumlah prajurit TNI yang berhasil bebaskan sandera di Papua.Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo saat masih menjadi Panglima TNI. (Foto: Dok. Puspen TNI).

"PPP harus mampu mencari figure ketua umum yang memiliki magnet public yang kuat," terang Toto.

"Meskipun program penting, tapi yang tak kalah penting dibutuhkan PPP saat ini adalah figur. Rentetan kasus hukum yang telah menyeret beberapa ketua umumnya masuk penjara, membuat PPP kehilangan legitimasi moral untuk jualan program sebagai daya tarik partai," sambung dia.

Seperti diketahui, dua ketua umum PPP yakni Suryadharma Ali dan Romahurmuziy terseret dalam kasus korupsi. Saat ini PPP dipimpin oleh Ketum Suharso Monoarfa yang juga menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas).

Toto menyebut, figure kuat diperlukan PPP karena partai berlambang Ka'bah ini memilih kelompok Islam sebagai captive market yang turun temurun sejak Orde Baru. Sementara ceruk yang sama sekarang sudah diambil merata partai berbasis Islam yang lain seperti PAN, PKS dan PKB.

"Idealnya kekuasaan bisa seperti Golkar yang tidak tergantung pada figure ketua umum karena punya sistem yang relatif kokoh dengan cengkraman kuku birokrasi kekuasaan yang kuat dan merata. Namun, untuk PPP dalam konteks hari ini sangat rawan nasibnya jika tak segera memiliki figure yang punya kapasitas personal dan bermagnet electoral," paparnya.

Toto menilai hingga saat ini belum ada figur internal PPP yang mampu meningkatkan keterpilihan partai tersebut. Oleh karena itu, PPP diimbau membuka peluang masuknya figur di luar partai yang punya elektabilitas dan tingkat popularitas.

LSI Denny JA pun hanya menyebut dua nama yang ditawarkan untuk bisa mengerek keterpilihan PPP, yakni Gatot Nurmantyo dan Sandiaga Uno. Gatot merupakan mantan Panglima TNI dan Sandiaga Uno adalah elite Gerindra yang sempat maju sebagai cawapres Ketum Gerindra, Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Kedua nama tersebut memang masuk bursa kandidat Pilpres 2024.

"Sejauh ini, hanya Pak Gatot dan Pak Sandi yang memenuhi kriteria tersebut, baik secara intelektual, moral, electoral dan modal sosial," kata Toto.

Meski begitu, kemungkinan resistensi dari internal PPP, menurut Toto, bisa saja terjadi. Ini lantaran Sandiaga sebagai petinggi Gerindra dan Gatot yang kini mengesankan sebagai bagian dari kelompok oposisi pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah bergabung dengan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno saat akan diperiksa di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (30/01/2018). Sandiaga diperiksa polisi sebagai saksi terkait kasus penggelapan tanah di Curug Tangerang. Agung Pambudhy/DetikcomSandiaga Uno. (Foto: Agung Pambudhy/detikcom).

"Ini memang pilihan pahit. Kalau bicara penyelamatan partai agar tidak makin terpuruk, dan bahkan karam, suka atau tidak, PPP butuh darah segar yang bisa memanggil pulang kandang kembali para pemilih tradisionilnya yang ideologis, tapi sekaligus membawa segmen pemilih baru," ujar Toto.

"Kedua figur itu bukan saja mumpuni secara personal, tapi juga memiliki potensi kesamaan 'darah' dengan PPP. Gatot misalnya, selain nasionalis sebagai mantan tentara, juga dianggap agamis. Ada kombinasi dua hijau, yaitu hijau tentara dan hijau Islam. Begitu juga dengan Sandi yang menurut data survei pernah menjadi penyumbang elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019 lalu dengan segmen milenial dan emak-emak," lanjutnya.

Sementara jika Sandiaga dipilih sebagai Ketum PPP, Toto menilai nantinya PPP akan mendapat sumbangan suara baru. Mengingat Sandiaga sudah punya segmen pemilih tersendiri.

"Posisi Sandi sebagai ketum PPP nanti sangat mungkin membawa dua segmen pemilih tadi, yaitu milenial dan emak-emak sebagai pasar baru PPP. Sandi juga dinilai sebagai sosok santun yang sangat mungkin diterima para stakeholder yang selama ini menjadi simpul penting di partai seperti para ulama, kiai dan ustaz. Termasuk, Sandi juga bisa menjadi figur tengah dari lima kelompok yang berfusi di partai tersebut. Yaitu, NU, MI, Parmusi, Perti dan SI," tutup Toto.

Lihat juga video 'Isu Denny JA Tagih Jabatan ke Luhut, Ini Jawaban Kementerian BUMN':

[Gambas:Video 20detik]



(elz/tor)