Sejarah Lomba Makan Kerupuk dan Panjat Pinang yang Kini Hilang Saat Pandemi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 17 Agu 2020 11:48 WIB
172 Batang Pohon Pinang Meriahkan HUT RI ke 72

Ratusan warga mengikuti panjat pinang Kolosal dalam rangka merayakan HUT ke 72 RI di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Kamis (17/8). Sebanyak 172 batang pohon pinang disediakan untuk warga dengan berbagai macam hadiah menarik. Grandyos Zafna/detikcom
Ilustrasi (Lomba panjat pinang tahun 2017) (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Acara perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus tahun ini terasa berbeda. Lomba makan kerupuk hingga panjat pinang tak bisa diadakan akibat pandemi Corona. Namun kita tetap bisa mengenang sejarah munculnya dua lomba 17-an ini.

Bila kita sejenak menengok sejarah politik masa lalu, panjat pinang mulanya adalah sarana hiburan orang Belanda di Batavia. Dulu, pada 1920-an, yang dipasang di puncak untuk diperebutkan adalah bahan makanan dan pakaian.

Mereka yang berlomba-lomba saling menginjak tak lain adalah kalangan pribumi. Yang ikut lomba pun bebas, siapa saja. Saling injak demi mendapatkan hadiah.

"Orang Belanda menjadikannya hiburan," terang sejarawan Asep Kambali, yang juga pendiri Komunitas Historia, Jumat (15/5/2015).

Asep menegaskan foto saat orang Belanda melihat pribumi berlomba panjat pinang juga terekam jelas di museum Belanda. Atau kalau paling mudah bisa melihat lewat Google.

Anggapan bahwa panjat pinang merupakan warisan kolonial Belanda, dibenarkan oleh sejumlah peneliti sejarah. Dalam buku 'Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal' karya Fandy Hutari, disebutkan bahwa sekitar 1930-an panjat pinang merupakan hiburan bagi orang Belanda. Biasanya panjat pinang diadakan bersamaan dengan hajatan besar orang-orang Belanda.

Sejumlah warga ikut serta dalam lomba panjat pinang yang diselenggarakan di Ancol. Mereka memburu beragam hadiah menarik untuk dibawa pulang.Sejumlah warga ikut serta dalam lomba panjat pinang yang diselenggarakan di Ancol. Mereka memburu beragam hadiah menarik untuk dibawa pulang. (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Kendati acara ini dimaksudkan sebagai hiburan orang Belanda, yang ikut serta dalam lomba panjat pinang lazimnya adalah orang pribumi. Orang Belanda hanya menonton sambil tertawa-tawa.

"Perlombaan memanjat pohon pinang pada masa ini hanya diikuti oleh orang-orang pribumi. Sedangkan orang-orang Belanda cuma tertawa-tawa menyaksikan orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang. Panjat pinang biasa juga diadakan oleh keluarga pribumi kaya-raya, antek kolonial," tulis Fandy dalam bukunya.

Tonton juga video 'Dirgahayu Indonesiaku! Begini Cara Tetap Gelar Lomba 17-an Asyik dan Seru':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3