Benarkah Panjat Pinang Warisan Penjajah Belanda? Sejarawan Bicara

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 17 Agu 2019 07:33 WIB
Foto: Ilustrasi panjat pinang (Ainur Rofiq)
Foto: Ilustrasi panjat pinang (Ainur Rofiq)
Jakarta - Pemkot Kota Langsa, Aceh melarang lomba panjat pinang pada perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia. Lomba ini dinilai sebagai warisan kolonial Belanda. Namun, dalam perjalanannya, lomba panjat pinang termasuk lomba yang punya simbol penting.

Larangan tersebut tertulis dalam surat Instruksi Wali Kota Langsa bernomor 450/2381/2019 tentang peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2019. Dalam surat tersebut, Usman menginstruksikan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemkot Langsa, kepala desa, dan pimpinan BUMN/BUMD untuk tak menyelenggarakan lomba panjat pinang.


Ada empat poin yang disebutkan dalam surat instruksi itu. Pada poin satu sampai tiga, aparatur sipil negara (ASN) dan kepala desa diminta mengikuti upacara 17 Agustus. Sedangkan poin keempat berisi larangan panjat pinang.

"Tidak melaksanakan kegiatan panjat pinang di setiap gampong dikarenakan secara historis merupakan peninggalan kolonial Belanda dan tidak ada nilai edukasinya," isi poin keempat.

Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Langsa M Husin mengatakan surat instruksi tersebut dikeluarkan setelah dilakukan rapat dengan panitia perayaan 17 Agustus. Imbauan tersebut dibuat karena Pemkot menilai lomba panjat pinang merupakan warisan penjajah.

"Pak wali mengimbau sebaiknya itu tidak usah ada. (Kalau tetap digelar) Tidak masalah," kata Husin saat dimintai konfirmasi wartawan, Kamis (15/8/2019).


Anggapan bahwa panjat pinang merupakan warisan kolonial Belanda, dibenarkan oleh sejumlah peneliti sejarah. Dalam buku 'Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal' karya Fandy Hutari, disebutkan bahwa sekitar tahun 1930-an, panjat pinang merupakan hiburan bagi orang Belanda. Biasanya panjat pinang diadakan bersamaan dengan hajatan besar orang-orang Belanda.

Kendati acara ini dimaksudkan sebagai hiburan orang Belanda, namun yang ikut serta dalam lomba panjat pinang lazimnya adalah orang pribumi. Orang Belanda, hanya menonton sambil tertawa-tawa.

"Perlombaan memanjat pohon pinang pada masa ini hanya diikuti oleh orang-orang pribumi. Sedangkan orang-orang Belanda cuma tertawa-tawa menyaksikan orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang. Panjat pinang biasa juga diadakan oleh keluarga pribumi kaya-raya, antek kolonial," tulis Fandy dalam bukunya.
Selanjutnya
Halaman
1 2