Pembakar Bendera Merah Putih Masih Diobservasi di RSJ, Ini yang Didalami

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 23:51 WIB
HUT ke-73 Kemerdekaan RI membawa berkah bagi para penjahit. Hingga saat ini mereka masih kebanjiran pesanan.
Ilustrasi bendera Merah Putih (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Tersangka pembakar bendera Merah Putih di Lampung berinisial MA masih diobservasi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lampung. MA diperiksa tim dokter dengan sejumlah tes untuk memastikan kondisi kejiwaannya.

"Nanti ada timnya, ada psikiater, ada psikolog, dan ada beberapa tes. Tersangka ini sudah kita lakukan pengukuran, tapi kan masih jauh. Kita harus tahu konsistensi jawaban," kata Psikiater Konsultan RSJ Lampung, dr Tendry Septa, saat dihubungi, Kamis (6/8/2020).

Dia mengatakan pemeriksaan bisa memakan waktu hingga 14 hari. Namun pemeriksaan bisa saja lebih cepat atau lebih lama dari waktu tersebut.

Tendry belum bisa menyampaikan kesimpulan sementara soal kejiwaan MA karena sejumlah pemeriksaan masih terus dilakukan.

"Polisi meminta dilakukan pemeriksaan visum et repertum psikiatrikum karena melihat ada beberapa tanda kejiwaan yang tidak lazim. Maka ada tim yang melakukan wawancara terhadap tersangka tadi. Ada waktu 1-14 hari sejak diberikan kepada kita, apabila kurang mencukupi, bisa diperpanjang, bisa juga lebih cepat," jelasnya.

Tendry mengatakan pemeriksaan juga tergantung pada kondisi psikologis tersangka MA. Tim dokter hanya akan memeriksa tersangka MA jika dalam kondisi stabil.

Tim dokter akan mendalami motif tersangka MA membakar bendera Merah Putih. Nantinya kesimpulan hasil observasi kejiwaan akan dikirim ke polisi yang menangani kasus dugaan pelecehan simbol negara tersebut.

"Tadi kan selintas seolah-olah tak lazim dikatakan Indonesia tak diakui PBB. Kemudian dia menyebutkan kalau negara yang ada ini seharusnya Kerajaan Mataram. Nah itu harus dikonfirmasi berulang-ulang untuk menentukan apakah ada gangguan kejiwaan atau tidak," ujar Tendry.

"Kesimpulan dari visum itu salah satunya, ada nggak nih orang yang bersangkutan mengalami gejala gangguan kejiwaan. Kedua, kita lihat pada saat melakukan dugaan pelanggaran hukum, apakah dipengaruhi oleh gangguan kejiwaan atau nggak," tambahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2