Sobek Amplop Penambang Pasir, Nelayan Makassar: Kami Tak Niat Robek Uang

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 21:14 WIB
Warga demo kawal 3 warga Pulau Kodingareng diperiksa polisi karena aksi perobekan amplop dari penambang pasir (Hermawan-detikcom).
Warga demo kawal 3 warga Pulau Kodingareng diperiksa polisi karena aksi perobekan amplop dari penambang pasir. (Hermawan/detikcom)
Makassar -

Tiga warga Kodingareng Lompo, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), diperiksa penyidik Direktorat Polair Polda Sulsel selama 8 jam terkait perobekan amplop dari perusahaan tambang pasir, PT B. Kepada penyidik, warga menegaskan tak bermaksud menjatuhkan martabat mata uang rupiah sebagai simbol negara.

"Kami pemeriksaan dari jam 10 pagi sampai pukul 18.30 Wita, sampai saat ini statusnya masih saksi," ucap penasihat hukum warga dari LBH Makassar, Ady Anugrah, kepada detikcom, Senin (3/8/2020) malam.

Para warga yang diperiksa terdiri atas dua orang laki-laki bernama Suwadi dan Manre, sementara seorang lainnya ialah perempuan Sarti. Kepada penyidik, saksi menjelaskan alasan perobekan uang tersebut terjadi hingga video perobekan beredar di media sosial Facebook yang kemudian diusut polisi.

Menurut Ady, warga tidak tahu secara pasti bahwa ternyata amplop pemberian PT B itu berisi uang. Dia mengatakan warga pada dasarnya sejak awal telah sepakat akan menolak segala bentuk pemberian dari perusahaan PT B.

Dia menegaskan perobekan amplop tersebut tak didasari niat untuk menjatuhkan martabat mata uang sebagai simbol negara seperti dimaksud pada UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Aksi itu murni penolakan segala bentuk pemberian dari perusahaan.

"Jadi warga sama sekali tidak ada niat untuk merobek uang, Pak Manre (salah seorang saksi) kemudian merobek murni karena tidak tahu isi dari amplop itu adalah uang," terang Ady.

Ady menyebut perobekan itu sebagai tindakan refleks karena nelayan geram kepada PT B yang sudah sekitar 4 bulan menambang pasir di wilayah tangkap ikan nelayan. Penambangan pasir membuat penghasilan mereka menurun drastis dan berdampak buruk ke lingkungan nelayan di Pulau Kodingareng Lompo.

"Dan kenapa dia melakukan tindakan refleks seperti itu karena dia kan nelayan sudah 4 bulan penghasilannya tidak normal karena aktivitas tambang. Nah, di lingkaran warga sepakat bahwa apa pun dari perusahaan kita akan tolak karena mereka menilai perusahaan akan menggunakan cara apa pun untuk meredam perlawanan mereka," terang Ady.

Selanjutnya
Halaman
1 2