2 Dosen ITB Diperiksa Kejagung Terkait Kasus TPPU Danareksa Sekuritas

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 19:12 WIB
Gedung Bundar Kejaksaan Agung
Gedung Bundar Kejaksaan Agung (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Kejaksaan Agung (Kejagung) terus mengusut kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang berasal dari tindak pidana korupsi (tipikor) dalam pemberian fasilitas pembiayaan dari PT Danareksa Sekuritas kepada PT Evio Sekuritas dan PT Aditya Tirta Renata Tahun 2014-2015. Hari ini tim penyidik memeriksa 2 dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diduga ada kaitannya dengan proses penyaluran dana PT Evio Sekuritas dan PT Aditya Tirta Renata.

"Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI, melakukan pemeriksaan 2 orang sebagai saksi yang terkait dengan perkara dugaan TPPU yang berasal dari tipikor dalam pemberian fasilitas pembiayaan dari PT Danareksa Sekuritas kepada PT Evio Sekuritas dan PT Aditya Tirta Renata tahun 2014-2015," kata Kapuspenkum Kejagung, Hari Setiyono, dalam keterangannya, Selasa (28/7/2020).

Adapun 2 saksi yang diperiksa hari ini adalah Christian selaku dosen ITB dan pelaksana dari pihak LAPI ITB; serta Bambang Kuncoro selaku dosen ITB dan pelaksana dari pihak LAPI ITB. Kedua saksi diperiksa terkait dengan proses penyaluran dana dari PT Evio Sekuritas dan PT Aditya Tirta Renata yang terkait peran tersangka TPPU.

"Selaku pelaksana kegiatan pada Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) para saksi dianggap ada kaitannya dengan proses penyaluran dana atau keuangan dari PT Evio Sekuritas maupun PT Aditya Tirta Renata yang di dalamnya ada peran tersangka TPPU," kata Hari.

"Oleh karena itu, dianggap perlu diminta keterangannya untuk digunakan sebagai alat bukti berupa keterangan saksi guna pembuktian perbuatan tersangka perkara dugaan tindak pidana pencucian uang dalam pemberian fasilitas pembiayaan dari PT Danareksa kepada PT Evio Sekuritas maupun kepada PT Adirtya Tirta Renata," imbuhnya.

Sebelumnya, penyidik Kejagung menetapkan Direktur PT Evio Sekuritas Rennier AR Latief sebagai tersangka TPPU dalam kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas pembiayaan dari PT Danareksa Sekuritas ke PT Evio Sekuritas tahun 2014-2015. Diketahui, Rennier telah lebih dulu berstatus tersangka dalam dugaan tipikor.

"Hari ini tim penyidik menetapkan lagi terhadap salah satu tersangka yaitu insinyur R dalam dugaan tindak pidana pencucian uang sehingga terhadap satu tersangka ini disangka melakukan tipikor dan TPPU," kata Kapuspenkum Kejagung Hari Setiyono, Rabu (24/6).

Rennier disangkakan Pasal 3 atau 4 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Hari menyebut, dalam kasus ini, ada dugaan dan upaya tersangka untuk menyamarkan hasil kejahatannya.

Dalam kasus ini, Kejagung juga telah menahan 6 tersangka kasus korupsi Danareksa Sekuritas, yaitu mantan Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas Marciano Herdondrie Herman; Komisaris PT Aditya Tirta Renata sekaligus pemilik modal PT Evio Sekuritas, Rennier AR Latief; Direktur PT Aditya Tirta Renata Zakie Mubarak; mantan Direktur Operasional Finance PT Danareksa Sekuritas Erizal; mantan Direktur PT Evio Securities, Teguh Ramadhani; dan mantan Direktur Retail Capital Market PT Danareksa Sekuritas periode 2013-2016, Sujadi.

Kasus bermula ketika PT Danareksa Sekuritas sejak September 2014 sampai November 2015 memberikan pembiayaan sebesar Rp 105 miliar dengan cara melawan hukum, yaitu melakukan Repo dengan jaminan saham SIAP yang tidak memenuhi syarat, dan memberikan pembiayaan trading (perdagangan saham) dengan tidak sesuai dengan limit transaksi dan tidak melakukan Forced Sale/Penjualan Paksa Saham Jaminan, sehingga bertentangan dengan Surat Keputusan Komite Pengelolaan Risiko PT Danareksa Sekuritas Nomor 001/KPR-DS/2011 tanggal Februari 2011.

Maka mengakibatkan posisi atau outstanding pembiayaan oleh PT Danareksa kepada PT Evio Securities dan grup, yakni Rennier, Gregorius Edwin, Teguh Ramadhani, Reza Pahlawan, Suryananda Adriansyah (terafiliasi), hingga saat ini merugi sebesar Rp 105.237.990.293 sehingga menjadi kerugian keuangan negara berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif dalam rangka Perhitungan Kerugian Negara BPK RI Nomor 04/LHP/XXI/02/2020 tanggal 11 Februari 2020.

Tonton video '5 Provinsi Kasus Corona Tertinggi: Jatim, DKI, Sulsel, Jateng, Jabar':

[Gambas:Video 20detik]



(yld/jbr)