Kemensos Serahkan BST ke Ribuan Warga Suku Anak Dalam yang Tak Punya KTP

Ferdi Almunanda - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 15:59 WIB
Penyerahan bantuan ke warga Suku Anak Dalam di Jambi (Ferdi-detikcom)
Foto: Penyerahan bantuan ke warga Suku Anak Dalam di Jambi (Ferdi-detikcom)
Jambi -

Kementerian Sosial (Kemensos) menyerahkan bantuan uang tunai kepada 1.341 kepala keluarga Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi. Bantuan senilai Rp 1,8 juta per kepala keluarga tersebut diharapkan bisa mengurangi dampak ekonomi penyebaran COVID-19 yang dirasakan warga.

"Jadi ini adalah bantuan sosial yang berupa uang yang diberikan secara tunai kepada orang rimba Jambi. Bantuan ini sebagai respons atas dampak pandemi COVID-19 yang juga mendera komunitas yang tinggal di dalam hutan. Bantuan bagi masyarakat rimba di Jambi ini khusus buat mereka yang tidak memiliki identitas diri atau memiliki KTP," kata Staf di Direktorat Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil Kemensos RI, Sarlis, saat penyerahan bantuan ke orang rimba Jambi, Minggu (19/7/2020).

Penyerahan bantuan ini dilakukan Kemensos bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dan KKI Warsi Jambi. Sarlis mengatakan warga suku anak dalam diberikan ID sementara agar bantuan bisa diserahkan.

"Jadi dengan bekerjasama dengan Warsi kemudian orang-orang rimba Jambi yang tak memiliki identitas ini didata oleh mereka. Lalu kita berikan ID sementara agar bantuan ini bisa disalurkan. Penyaluran bantuan ini juga kira lakukan melalui kantor pos yang ada di beberapa tempat di lokasi suku anak dalam yang akan kita datangkan," ujar Sarlis.

Sebagai informasi, selama pandemi COVID-19 merebak, orang rimba Jambi melakukan pembatasan dengan cara ber-sesandingon atau memisahkan diri dengan anggota kelompok lainnya termasuk membatasi bertemu dengan pihak luar. Hal itu membuat orang rimba Jambi merasakan kesulitan.

"Pada awal sesandingon, kelompok Orang Rimba yang tinggal di dalam rimba, masih mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka, sedangkan yang tinggal di bawah perkebunan sawit dan perkebunan karet langsung terdampak karena hasil buruan mereka tidak ada yang membeli dan mereka juga takut untuk keluar menjual hasil buruanya," kata Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf.

Tonton video 'Polisi Selidiki Dugaan Penyelewengan Bansos COVID-19, Total 55 Kasus':

Selanjutnya
Halaman
1 2