Guru Besar Unhas Nilai Banjir Luwu Utara karena Pembukaan Lahan Pegunungan

ADVERTISEMENT

Guru Besar Unhas Nilai Banjir Luwu Utara karena Pembukaan Lahan Pegunungan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 13:43 WIB
Banjir bandang di Luwu Utara (dok. Istimewa)
Foto: Banjir bandang di Luwu Utara (M. Riyas-detikcom)
Makassar -

Maraknya pembukaan lahan di wilayah pegunugan Luwu Utara dinilai menjadi sebab banjir bandang yang terjadi di Kota Masamba dan kecamatan di sekitarnya. Hutan yang dulunya mampu menampung air hujan kini berubah menjadi lahan perkebunan dan permukiman.

Analisa ini dipaparkan Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Prof. Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, ST.M.Phil dalam catatannya berjudul 'Duka Untuk Masamba' seperti yang diterima detikcom, Rabu (15/7/2020).

Awalnya, Guru Besar Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin ini menjelaskan, terdapat setidaknya 3 sungai besar dan beberapa sungai kecil yang mengalir memotong daerah Masamba dari utara ke selatan. Sungai-sungai ini terbentuk oleh akibat patahan-patahan atau sesar sekitar Pliosen atau 2 juta tahun yang lalu.

Patahan-patahan ini terjadi akibat proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi, dan seiring waktu patahan-patahan tersebut membentuk aliran sungai.

"Di daerah hulu, proses pelapukan sangat intens terjadi. Hal ini dibuktikan dengan tebalnya soil atau tanah tutupan yang mencapai 5-7 km. Hasil penelitian yang dilakukan oleh UNHAS menemukan ketebalan soil bisa mencapai 8 meter dititik tertentu," jelasnya.

"Banyaknya aktifitas pembukaan lahan-lahan untuk perkebunan dan permukiman yang tidak terkontrol di wilayah pegunungan atau hulu sungai menyebabkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan, dan akibatnya terjadi proses sedimentasi pada sungai yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan kondisi sungai secara umum terganggu," lanjutnya.

Pembukaan lahan juga disebut menyebabkan tanah menjadi rentan terhadap erosi permukaan sehingga vegetasi ikut berkurang. Kondisi ini membuat tanah di bagian hulu tidak mampu lagi menyerap air hujan dengan baik.

Selain itu, terbukanya lahan juga menyebabkan proses erosi semakin tinggi dan menghasilkan tumpukan material sedimen yang semakin besar yang mengisi saluran sungai dan terendapkan pada dasar sungai. Hal ini membuat kapasitas atau volume sungai menjadi berkurang karena terjadi pendangkalan.

"Kondisi ini menyebabkan ketika terjadi hujan deras dalam waktu yang singkat, maka banjir akan terjadi. Banjir terjadi dengan cepat, atau yang sering disebut dengan banjir bandang. Banjir ini terjadi akibat ketidakmampuan sungai untuk mengakomodasi volume air yang mengalir dan menyebabkan air akan meluap," imbuhnya.

Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani sebelumnya menduga banjir yang terjadi di wilayahnya akibat adanya longsoran yang cukup besar di daerah hulu Masamba. Longsor ini diakibatkan intensitas hujan yang cukup tinggi di wilayah Masamba sejak Mei lalu.

"Karena curah hujan tinggi terus, kelihatannya (membuat daerah hulu longsor). Saya belum bisa menyimpulkan, tetapi kemungkinan besar ini terjadi longsoran besar di wilayah hulu. Nah kemarin malam sempat agak tinggi hujannya," kata Indah kepada detikcom Selasa (14/7) lalu.

(nvl/idh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT