Cerita Warga Bergantung di Atas Rumah Saat Banjir Terjang Luwu Utara

ADVERTISEMENT

Cerita Warga Bergantung di Atas Rumah Saat Banjir Terjang Luwu Utara

Muhammad Riyas - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 11:11 WIB
Kondisi bantaran sungai Masamba akibat banjir bandang di Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (14/7/2020). Akibat banjir bandang tersebut mengakibatkan 10 orang meninggal dunia dan ratusan rumah tertimbun lumpur. ANTARA FOTO/Muktar/yu/hp.
Kondisi banjir bandang di Luwu Utara (Antara Foto)
Luwu Utara -

Banjir bandang yang menerjang Kota Masamba, Luwu Utara, dan sekitarnya menjadi duka mendalam bagi sebagian warga yang kehilangan sanak saudara dan rumahnya. Seperti yang dialami warga Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Masnah (41).

Masnah mengungkapkan, hujan deras yang terjadi pada Senin (13/7/2020) lalu membuat banjir bandang menerjang tempat tinggalnya di Desa Radda. Malam itu beberapa saat setelah salat isya, dia keluar rumah dan kaget melihat air beserta lumpur dan material banjir sudah menutup halaman depan rumahnya.

"Itu waktu air masuk halaman rumahku saya lari, kondisi tertutup mi itu rumah (sama air dan material banjir), saya sudah tidak bisa lewat pakai motor," kata Masnah saat berbincang dengan detikcom di lokasi pengungsian, Rabu (15/7/2020).

Masnah 41 tahun, warga Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Luwu Utara yang menjadi korban banjir bandang (Riyas-detikcom).Masnah (41), warga Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Luwu Utara, yang menjadi korban banjir bandang. (Riyas/detikcom)

Masnah awalnya berusaha melarikan diri menggunakan motor, namun kondisi air yang makin deras turut menyeret motornya.

"Akhirnya saya biarkan saja itu motor (terbawa air). Seandainya tidak saya lepas saya juga pasti terbawa air," tuturnya.

Melihat motornya terbawa air dan arus semakin besar, Masnah sudah kebingungan menyelamatkan diri. Beruntung saat dia dalam setengah sadar datang kemenakannya yang menolong.

"Kemenakan membawa saya ke perempatan jalan yang aman di daerah atas. Intinya sudah saling terpencar kita (sekeluarga), tidak baku tau mi," imbuhnya.

Namun kepanikan makin terasa saat banyak warga yang juga ikut menyelamatkan diri di perempatan jalan yang cukup tinggi tersebut. Banyak juga warga yang bilang kalau air akan sampai ke wilayah tersebut.

"Saya masih sempat pegang itu tiang listrik, nah saya saya langsung lari," kenangnya.

Masnah pun lari ke rumah warga di sekitar perempatan jalan tersebut. "Saya sendiri posisi sudah menggantung ke rumahnya orang, ada juga yang di bawah kursi, di bawah mobil," tuturnya.

Saat kepanikan terjadi di perempatan jalan tersebut, ibu kandung Masnah dibawa berboncengan motor oleh kemenakannya. Mulai saat itu dia sudah sudah tidak tahu kabar ibu kandungnya.

Besoknya, pada Selasa (14/7), Masnah dan keluarga berusaha mencari keberadaan ibu kandungnya. Namun dia mendapat kabar jika ibu kandungnya sudah meninggal dunia dan berada di rumah sakit.

"Adik saya melihatnya (jenazah ibu) di rumah sakit, sudah mau dibawa. Satu hari adik ku, kakakku mencari (ibu kandung saya)," pungkasnya.

(nvl/idh)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT