Keluhan Ortu soal PPDB DKI Jalur Bina RW: Tak Ada Pilihan Sekolah-Bukan Solusi

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 21:24 WIB
Pra Pendaftaran Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta akan dimulai pada, Kamis (11/9). Nah, seperti apa sih persiapannya?
Ilustrasi PPDB DKI (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) DKI Jakarta jalur Bina RW dibuka hari ini. Beberapa orang tua (ortu) murid mengaku tidak dapat mendaftarkan anaknya karena tidak ada sekolah di sekitar RW-nya.

Ortu bernama Nita (51) mengatakan ikut mendaftarkan anaknya yang berusia 14 tahun 9 bulan ke SMA melalui jalur Bina RW. Namun, Nita mengatakan, saat membuka website, tidak ada opsi SMA yang dapat dipilihnya.

"Tidak ada sekolah, karena langsung muncul di situ itu 'mohon maaf sekolah yang Anda tuju tidak ada di RW Anda dan tidak ada di KK Anda'. Tidak bisa (daftar) lagi karena pilihan sekolahnya tidak muncul," kata Nita kepada detikcom, Sabtu (4/7/2020).

Sementara itu, menurut Nita, ada salah satu sekolah di Jakarta yang tidak memiliki pendaftar siswa di PPDB jalur Bina RW. Nita mengungkapkan tidak ada siswa yang mendaftar ke sekolah itu melalui jalur Bina RW.

"Dan saya lihat itu (SMAN) 82 tidak ada yang masuk di jalur Bina RW. Mungkin (SMAN) 82 itu tidak ada penduduk di situ, anak-anak yang sekolah di situ. Sampai saat ini nggak ada yang masuk di jalur Bina RW (di situ)," ujar Nita.

Menurut Nita, penambahan jalur Bina RW sangat tidak adil. Dia pun sempat berpikir agar anaknya mengambil jeda sehingga tidak sekolah selama satu tahun ke depan.

"Tidak adil banget, banget, banget. Saya tuh sudah apa ya, sudah nyesek gitu dada. Ngikutin apa yang di TV, ngikutin perjuangan-perjuangan orang tua, tapi hasilnya masih mental semuanya," ujar Nita.

Lebih lanjut Nita mengatakan tidak tahu apa yang akan dilakukannya ke depan. Dia pun mengungkapkan biaya sekolah swasta cukup besar dan sudah banyak sekolah swasta yang telah menutup masa pendaftaran.

"Nggak tahu. Saya tuh saat ini stres, ya. Mau sekolah swasta kendala di keuangan, mau di swasta, swastanya juga tutup. Saat ini yang saya lakukan hanya menghibur anak saya, saya tidak mau. Sebenarnya saya sedih banget, sedih," kata Nita.

Ortu bernama Erik (46) juga mengungkapkan hal yang serupa. Saat Erik hendak mendaftarkan anaknya yang berusia 14 tahun 6 bulan ke SMA melalui jalur Bina RW, ternyata tidak ada pilihan sekolah yang dapat dipilihnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2