Mentahkan Klaim DKI, Greenpeace Tegaskan PSBB Tak Bikin Udara Jadi Sehat

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 11:25 WIB
Emisi gas buang kendaraan kerap jadi biang kerok buruknya kualitas udara Jakarta. Jika memang demikian, pemerintah diharapkan turun tangan menanganinya.
Gambar ilustrasi suasana salah satu kawasan di Jakarta. (Antara Foto)
Jakarta -

Kelompok pemerhati lingkungan, Greenpeace, menyatakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta tidak membuat kualitas udara di Ibu Kota menjadi sehat. PSBB masa transisi kemudian memperburuk kualitas udara Jakarta.

"Selama masa PSBB, polusi udara di Jakarta diklaim mengalami penurunan. Greenpeace mengamati dan menganalisis data PM 2,5 yang diambil dari dua stasiun pemantauan kualitas udara di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat," kata Greenpeace sembari menyinggung klaim Jakarta soal kualitas udara, lewat siaran pers di situs Greenpeace, Selasa (23/6/2020).

PM 2,5 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). PM 2,5 berbahaya karena cukup halus sehingga bisa masuk langsung ke paru-paru.

PSBB Jakarta dimulai pada 10 April 2020, sedangkan PSBB masa transisi dimulai 5 Juni 2020. Namun sebelum PSBB, Greenpeace mencatat aktivitas kerja dari rumah (work from home) sudah mulai ada sejak 14 Maret. Meski begitu, kualitas udara tidak juga membaik.

"Greenpeace mencatat ada lima Hari dalam Kategori tidak sehat di Jakarta Selatan khususnya, pada masa awal Kerja Dari Rumah ini (14 Maret - 9 April 2020). Tidak ada Hari dengan kondisi udara Baik (Sehat) di masa ini di Jakarta selatan maupun Jakarta Pusat," kata Greenpeace.

Memasuki masa PSBB pada 10 April-4 Juni 2020, kualitas udara juga tidak mengalami perbaikan. Kadar PM2,5 di udara masih berada pada kategori menengah (moderate) dan tidak sehat untuk kelompok sensitif.

"Bahkan di Jakarta Selatan ada 24 hari tidak sehat. Jika diamati data rata-rata setiap jamnya seringkali terjadi peningkatan level PM 2.5 pada malam hari," kata Greenpeace.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3