Di Balik Mewahnya Perkawinan Dokter: Diadili karena Nyaris Pukul Ortu Sendiri

Andi Saputra - detikNews
Sabtu, 23 Mei 2020 17:07 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi palu hakim. (Ari Saputra/detikcom)

Diiringi drama panjang, akhirnya pesta pun digelar. Tapi, kedua orang tua dr A sangat terpukul karena keduanya tidak diundang. Bahkan, nama kedua orang tua itu hilang dari surat undangan pernikahan.

Rangkaian pilu yang bertubi-tubi itu membuat kedua orang tuanya depresi. Orang tua itu mengalami penderitaan psikis akibat konflik dengan anaknya.

Akhirnya, langkah hukum ditempuh keluarga tersebut. Dokter A, yang 'tidak tahu diuntung' dan berbakti kepada orang tua, dipolisikan. Kasus berlanjut ke pengadilan.

Pada 5 Maret 2020, PN Jaksel menyatakan dr A bersalah melakukan kekerasan psikis dalam rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 45 ayat 1 jo Pasal 5 huruf b UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). PN Jaksel menjatuhkan hukuman percobaan berupa 3 bulan penjara yang tidak perlu dijalani apabila selama 6 bulan tidak melakukan perbuatan pidana.

Atas putusan itu, jaksa dan dr A sama-sama mengajukan banding. Apa kata majelis tinggi?

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan," ujar majelis tinggi yang diketuai oleh Achmad Yusak dengan anggota Sirande Palayulan dan Haryono pada 20 Mei 2020.

selanjutnya
Halaman

(asp/zak)