Round-Up

Akhir Polemik 'Musala' di Minahasa Utara

Tim detikcom - detikNews
Senin, 03 Feb 2020 20:03 WIB
Kementerian Agama (Kemenag) mengusulkan besaran rata-rata biaya perjalanan ibadah haji 2020 ke Komisi VIII DPR RI. Besaran biaya yang diusulkan Rp 35 juta.
Menag Fachrul Razi (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -

Balai pertemuan yang dijadikan musala di Minahasa Utara, Sulawesi Utara sempat dirusak oleh sekelompok warga karena digunakan untuk beribadah, padahal belum berizin rumah ibadah. Kini, balai pertemuan itu disebut sudah bisa digunakan lagi untuk beribadah.

Dirangkum detikcom, Senin (3/2/2020), video yang menunjukkan sejumlah orang merusak ruangan yang disebut sebagai musala di Perumahan Griya Agape Desa Tumaluntung, Kauditan, Minahasa Utara, Sulawesi Utara , viral di media sosial. Kabid Humas Polda Sulut Kombes Jules Abraham Abast membenarkan peristiwa perusakan itu, namun yang dirusak bukanlah musala.


Perusakan terhadap balai pertemuan itu terjadi pada Rabu (29/1), sekitar pukul 18.20 Wita. Awal kejadian, warga sekitar mendatangi balai pertemuan itu untuk menanyakan perizinan sebagai tempat ibadah. Perdebatan antara warga dan pengurus balai menghangat hingga akhirnya terjadi perusakan.

"Memang datang warga masyarakat, dari sekitar Perum Griya Agape ke balai pertemuan umat muslim Al Hidayah, menanyakan terkait perizinan tempat ibadah tersebut. Namun dari warga yang ada di balai pertemuan tersebut terjadi perdebatan dan tidak bisa menunjukkan perizinan karena itu memang belum ada izin menjadi tempat ibadah, karena itu memang bukan tempat ibadah," tutur Kombes Jules, Kamis (30/1).

Soal masalah balai pertemuan yang dijadikan musala di Perumahan Griya Agape ini sebenarnya bukan masalah baru. Pada Juli 2019, ibadah umat Islam di balai pertemuan itu dihentikan kepala desa karena tak mengantongi izin. Tempat itu berizin balai pertemuan, bukan musala.