Cegah Child Grooming, KPAI Minta Orang Tua Perketat Pengawasan

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
Selasa, 30 Jul 2019 08:54 WIB
Foto: Matius Alfons/detikcom
Jakarta - Polisi menangkap AAP alias Prasetya tersangka child grooming yang meresahkan masyarakat. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menuturkan tidak bisa langsung menjauhkan anak dari internet, tapi peran aktif orang tua untuk mengawasi harus ditingkatkan untuk menghindari hal tersebut.

"Sebenarnya soal pengawasan orang tua ya, bagaimana anak-anak itu berselancar sendiri melalui internet di kamar, di sekolah kita nggak nengok-nengok lagi. Kita nggak ngecek-ngecek lagi. Karena namanya anak ya, dia kan nggak tahu bahaya. Jadi memang perlu didampingi," kata Retno kepada detikcom, Senin (29/7/2019) malam.

Retno menuturkan pentingnya pengawasan dari orang tua. Dia menilai kasus child grooming terjadi karena kurangnya pengawasan kepada anak yang menggunakan gadget.

"Kita berharap ini orang tua melakukan pengawasan. Itu kan bukan ranah publik, ranah privat. siapa juga yang bisa menjaga," ucapnya.

Retno juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada anak terkait pendidikan seksual. Salah satunya adalah memberikan pemahaman yang benar mengenai oragan tubuh, termasuk alat vital.

"Sejak anak-anak masih kecil gunakan kata yang sebenarnya untuk menyebut kemaluan laki-laki dengan penis dan kemaluan perempuan dengan vagina. Jangan menggunakan nama yang dibuat-buat agar terlihat lucu, atau malah menyamarkan maknanya. Seperti burung, anu, kemaluan, atau istilah lainnya. Hal ini akan membuat anak kebingungan menyebut apa yang dilakukan pelaku pada anggota tubuhnya, saat sesuatu terjadi dan perlu dilaporkan. Pemberian istilah yang samar pada anggota tubuh membuat stigma negatif terhadap bagian tubuh tersebut," jelasnya.

Selain itu, dia meminta orang tua mengajarkan mengenai perbadaan sentuhan aman dan membahayakan. Dia juga meminta orang tua mengajarkan anak tidak takut melapor jika mendapat perlakuan seksual yang tidak wajar.

"Ajarkan anak sejak kecil perbedaan antara sentuhan aman dengan sentuhan nakal yang membahayakan. Sentuhan yang aman biasanya adalah sentuhan yang diberikan pada area dimana tidak ditutupi oleh baju renang atau handuk. Seperti bahu, kepala, dan kaki. Sentuhan yang aman juga memberikan rasa tenang dan nyaman, seperti pelukan seorang ibu," ucapnya.

Retno berpesan agar orang tua meningkatkan literasi mengenai penggunaan gadget. Hal itu akan mempermudah pengawasan kepada anak.

"Ketika anak anda masih usia anak 0-18 tahun, maka ponsel pintar sebaiknya jangan diberikan sebagai hadiah, tetapi dipinjamkan. Karena dipinjamkan, maka ponsel tersebut tidak boleh di password dan orang tua boleh mengecek sewaktu-waku, lakukan selama orangtua masih membayar pulsa dan anaknya berusia dibawah 18 tahun.," terangnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya AAP alias Prasetya Devano alias Defans alias Pras pelaku child grooming yang melancarkan aksinya via aplikasi game online 'Hago'. Pelaku yang sudah 10 kali beraksi itu mengincar anak-anak menjadi korbannya.

Polisi mengetahui pelaku menyasar anak-anak dari usia 9 hingga 15 tahun dari penyidikan. Hal itu dimungkinkan lantaran game itu mewajibkan pemainnya mengisi identitas termasuk usia.

"Yang jadi target pelaku anak-anak di bawah umur. Para korbannya umurnya 15, ada yang 9 tahun," ujar Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya Kombes Iwan Kurniawan kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Senin (29/7/2019).

Aplikasi game online itu, kata Iwan, memungkinkan para pemainnya dapat bertukar nomor telepon seluler (ponsel). Setelah mengantongi nomor ponsel korbannya, pelaku menghubunginya dan mengajak berkomunikasi via video call.

"Saat gunakan video call ini pelaku ngajak korban-korban untuk melakukan perbuatan yang mengarah pada tindakan asusila," kata Iwan.


Cegah Child Grooming, Hago Blokir Fitur Kirim Foto dan Kontak:

[Gambas:Video 20detik]



(fdu/fdu)