DetikNews
Senin 04 Februari 2019, 13:04 WIB

Wiranto ke Bawahan: Cerahkan Masyarakat, Jangan Sampai Salah Pilih Pemimpin

Zakia Liland - detikNews
Wiranto ke Bawahan: Cerahkan Masyarakat, Jangan Sampai Salah Pilih Pemimpin Menko Polhukam Wiranto saat acara Penandatanganan Perjanjian Kinerja Pejabat Eselon I Kemenko Polhukam Tahun 2019 (Foto: Zakia Liland/detikcom)
Jakarta - Menko Polhukam Wiranto mengingatkan jajarannya untuk memperkuat koordinasi. Sebab Kemenko Polhukam punya tugas yang cukup vital dalam memastikan stabilitas negara.

"Kita tahu bahwa koordinasi itu sangat penting. Tanpa koordinasi kita tidak bisa menghasilkan suatu kinerja yang baik. Tanpa koordinasi kita tidak bisa menghasilkan suatu keputusan yang bulat," kata Wiranto, Senin (4/2/2019).

Hal ini disampaikan Wiranto dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kinerja Pejabat Eselon I Kemenko Polhukam Tahun 2019. Penandatanganan perjanjian ini diharapkan membuat kerja makin baik.


Dia mengatakan dengan tugas menjaga stabilitas politik, Kemenko Polhukam menangani persoalan hukum, keamanan, politik, budaya, hingga ekonomi. Selain itu, Wiranto juga mengingatkan tugas Kemenko Polhukam untuk memastikan situasi kondusif menjelang pemilu.

"Sebentar lagi pemilu. Tugas kita, tugas Kemenko Polhukam kan sama, membangun situasi, stabilitas politik, pelaksanaan hukum, ketertiban dan sebagainya, ketahanan nasional menjelang pemilu harus kondusif, harus baik, agar rakyat ini dapat melakukan aktivitas memilih calon pemimpin, apakah calon presiden, calon wakil presiden, apakah parpol pusat dan daerah dengan aman, dengan lancar. Tidak hanya itu, tapi paham betul yang dipilih itu siapa, seperti apa," ungkapnya.

Wiranto meminta jajarannya untuk membantu meningkatkan partisipasi masyarakat. Dia mengatakan pemilu jadi ajang lima tahunan untuk memilih pemimpin terbaik.


Wiranto ingin agar masyarakat sadar penuh atas calon pemimpin yang dipilih. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan seperti mengetahui rekam jejak (track record), pengalaman si calon, dan juga soal hasil kerja si calon.

"Tugas kita mencerahkan masyarakat, jangan sampai kita salah memilih pemimpin karena hakikat pemilu itu sebenarnya bukan hanya memilih pemimpin. Hakikat pemilu itu sebenarnya bagaimana kita menentukan lima tahun ke depan untuk bangsa ini melalui memilih pemimpin. Jadi, pemimpin itu hanya instrumen, pelaku untuk bagaimana lima tahun ke depan itu harus baik. Jangan sampai kemudian kita asal-asalan memilih pemimpin, harus jelas itu, siapa dia, track record-nya bagaimana, apa pengalamannya dia, apa yang telah dilakukan untuk meyakinkan bahwa dia sebagai pemimpin yang layak," bebernya.

Dia memberi ilustrasi calon pemimpin dengan sopir bus. Kemampuan seorang sopir, lanjutnya, tentu berpengaruh dengan tingkat keamanan untuk bisa sampai ke tujuan.


"Kalau kita mau pariwisata, ramai-ramai naik bus. Mungkinkah kita memilih sopir bus yang tidak pengalaman? Mungkinkah kita menggadaikan keselamatan kita kepada sopir bus yang tidak jelas track record-nya. Jangan-jangan dia, sopir bemo kemudian nyupir bis. Jangan-jangan dia sopir angkot, nggak pernah pegang bus dia naik bus, ya pasti kacau," kata dia.

Wiranto mengingatkan tiap aparatur sipil negara (ASN) harus netral. Dia menegaskan hanya meminta jajarannya untuk menjelaskan pemilu sebagai pesta demokrasi harus dijalankan dengan gembira.

"Maka, tadi saya katakan, 'ayo, walaupun Anda ASN tidak boleh berpihak, netral, tetapi kan boleh untuk menerangkan kepada masyarakat untuk bagaimana memberikan pemahaman lima tahun sekali ini adalah pesta demokrasi. Artinya pesta, mengapa? Harus dilaksanakan dengan riang gembira," ucap dia.


Dia ingin pemilu tak membuat masyarakat bermusuhan. Wiranto meminta aparat penegak hukum menindak tegas pihak yang berupaya mengacaukan pemilu.

"Dan kembali lagi bahwa ini bukan ajang untuk kita saling membenci di antara panel-panel satu dengan yang lain, pengikutnya ketemu, cekcok, ya, bahkan berkelahi. Itu sudah salah besar, nggak bener. Maka, saya juga menyampaikan bahwa tegas saja jika ada pihak-pihak untuk mengkompori, memanas-manasi, meng-create, tangkap saja berarti betul-betul ada yang mengacau," ucap Wiranto.
(jbr/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed