Penjual Buku Langka dan Tua Tak Terpengaruh Toko Online

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Minggu, 06 Jan 2019 20:37 WIB
Foto: Toko buku langka di TMII. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)
Jakarta - Toko buku online membuat pasar pedagang buku di Kwitang dan Senen di Jakarta menjadi lebih sepi. Namun penjualan buku tua dan langka tak terpengaruh oleh perkembangan jual-beli daring.

Hal ini dituturkan oleh pemilik toko buku langka di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, kepada detikcom, Rabu (12/12/2018). Pemilik toko buku ini adalah Doly Hirawansyah, putra Syamsuddin Effendi. Dia meneruskan bisnis bapaknya ini sejak 2004 setelah dijalankan sejak 1986. Di sini ada spanduk bertuliskan 'Dolly Syamsudin, Buku Langka TMII'.

Di toko yang terletak di Desa Seni dan Kerajinan dalam TMII ini, buku-buku bertumpuk di lemari kaca, lemari kayu, maupun di atas lantai langsung. Doly menceritakan, tempat ini bukan yang pertama menjadi titik jualan ayahnya. Sebelum 1986, ayahnya sudah berjualan buku pada era Gubernur Ali Sadikin, lokasi pertama lapak ada di kawasan Lapangan Banteng, berpindah ke Pasar Senen, dan akhirnya ke TMII ini. Yang menawari pindah lokasi adalah Ibu Negara saat itu, yakni Siti Hartinah atau dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto.



Sejak saat itu, pembeli dari berbagai kalangan selalu datang, mulai dari mahasiswa hingga dosen, mulai dari karyawan biasa hingga pejabat negara. Banyak yang terus datang kembali dan menjadi pelanggan tetap.

"Pejabat juga, seperti Fadli Zon (Wakil Ketua DPR) itu langganan. Kadang-kadang saya myang menawarkan buku ke para pelanggan. Kalau bilang oke, maka saya antarkan ke tempatnya. Kalau Fadli Zon biasanya beli buku-buku tentang Indonesia, seperti sejarah, budaya, politik," tutur Doly.


Penjual Buku Langka dan Tua Tak Terpengaruh Toko OnlineDoly, pemilik toko buku langka di TMII. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Selain buku tua dan langka yang berusia puluhan tahun atau dari abad silam, ada pula kategori 'buku tanggung' yang usianya sekitar beberapa tahun lalu, belasan tahun lampau, hingga terbitan 1980-an. Penjualan buku-buku seperti ini dikatakannya tak terpengaruh oleh perkembangan jual-beli online.

"Bicara buku langka ya, online itu nggak berpengaruh. Kenapa, karena itu kan bukunya susah," kata Doly.



Buku langka cenderung susah didapat orang umum. Memang Doly juga menjual buku-buku lawas lewat internet, namun dia tak bakal memajang buku langka di internet. Paling banter, buku kategori tanggung saja yang dia jual lewat internet. Ada sebab khusus yang membuatnya tak menjual buku langka via daring.

"Buku tua itu eksklusif. Langganan saja yang saya tawarkan. Orang-orang baru nggak," kata Doly.

Penjual Buku Langka dan Tua Tak Terpengaruh Toko OnlineFoto: Toko buku langka di TMII. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Hanya pelanggan tetap saja yang dia tawari buku langka. Dia tak mau mengecewakan pelanggan setianya. Buku yang benar-benar langka bahkan tidak disimpan di toko ini, melainkan di rumahnya. Meski begitu, di toko ini ada pula buku-buku rilisan 1940 hingga 1800-an.

Meski sudah dibatasi penawarannya, namun kadang tetap saja ada perebutan untuk mendapatkan buku langa di antara pelanggan. Bila kondisinya seperti itu, Doly akan memutuskan siapa yang berhak mendapatkan buku langka yang jumlahnya cuma satu eksemplar itu, yakni untuk pelanggan yang pertama menghubunginya.

Buku langka apa saja yang sebenarnya dia jual?

Doly menyebut buku karya Georg Eberhard Rumpf (Rumphius) berjudul 'Herbarium Amboinense'. Buku itu diikenal karena latar belakang penulisannya yang dramatis. Buku tentang rempah-rempah Ambon itu baru diterbitkan hampir 40 tahun kemudian setelah kematian Rumphius, yakni antara tahun 1741 sampai 1750. 'Herbarium Amboinense' terbit dalam enam volume, 1.660 halaman, memuat 700 gambar, mendeskripsikan 1.200 jenis tumbuhan. Sayangnya, Doly tak menunjukkan buku itu kepada detikcom, sehingga kami tak bisa mengecek keasliannya.



Ada pula buku 'Het Adatrecht van Nederlandsch-Indiƫ' karya Cornelis van Vollenhoven yang menjelaskan hukum adat di Indonesia. Volume pertama buku itu terbit tahun 1918. "Harganya di sini sekitar Rp 7 juta sampai Rp 8 juta," kata Doly.

Dia juga menyebut komik-komik Indonesia dekade 1960-an, seperti karya Djair Warni yang terkenal dengan komik Jaka Sembungnya, Ganes TH yang terkenal dengan komik 'Si Buta dari Gua Hantu', dan karya Teguh Santosa. "Itu susah dapatnya, harganya lumayan juga, yang cetakan tahun '60-an kayak Mahabharata (karya RA Kosasih) yang cetakan pertama," kata dia. Ada pula Alquran tua dari Abad 19 yang pernah dia jual.

Penjual Buku Langka dan Tua Tak Terpengaruh Toko OnlineFoto: Toko buku langka di TMII. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Berapa harganya?

Dia menyebut buku-buku langka dia jual dari kisaran ratusan ribu Rupiah hingga jutaan Rupiah. Harganya memang bisa bikin geleng-geleng kepala orang yang tak hobi mengoleksi buku langka nan tua. Satu buku, ada yang dia hargai Rp 20 juta, Rp 30 juta, atau Rp 40 juta.

"Paling tinggi yang pernah saya jual harganya Rp 125 juta, yakni Alquran tulisan tangan, tahun 1800-an, yang beli pejabat, nama pejabatnya nggak boleh dikasih tahu. Itu dibei sekitar delapan tahun lalu," kata Doly.

Seorang kolektor apalagi yang kelas kakap tak bakal berat hati membelanjakan uangnya demi mendapatkan buku langka. Uang dari penjualan buku langka dan tua itu menjadi sumber pendapatan utamanya. Baru di urutan kedua, ada uang penjualan buku tanggung terbitan '80-an ke atas yang turut menyumbang pendapatannya. Dia menolak nominal keuntungan yang dia dapatkan.



"Tapi saya punya rumah, mobil, motor, bisa sekolahin anak-anak, sudah enak. Sudah tercukupi," ujarnya sambil tertawa. Doly sudah punya dua anak, si sulung bersekolah tingkat SMP dan si bungsu kelas 5 SD.

Dia mendapatkan buku-buku langka dan tua dari jejaring yang dibangun lewat pameran buku, serta relasi pertemanan. Ada pula kolektor buku langka yang meninggal, kemudian anak kolektor itu menghubunginya untuk mengambil buku koleksi si almarhum. Buku-buku itu dia beli putus, tak ada buku titip jual di sini.



Masalah yang dia hadapi kini adalah banyak permintaan terhadap buku langka, namun ketersediaan bukunya hanya sedikit. Namun terlepas dari tuturannya, bila ditilik dari sisi ekonomi tentu kondisi seperti itu justru membuat harga komoditas jadi melambung. Meski buku langka bisa menghasilkan keuntungan, namun ada satu wasiat dari ayahnya yang dia ingat.

"Pesan dari bapak saya, kalau bisa jangan dijual ke luar negeri atau ke orang asing. Soalnya kalau dijual ke orang asing, buku itu bakal dibawa ke luar negeri dan nggak akan balik ke Indonesia lagi. Kalau kita jual di dalam negeri, kan bisa dinikmati orang lain lagi di sini," ujarnya.

Simak juga tulisan-tulisan detikcom tentang toko buku dan minat baca. (dnu/dnu)