DetikNews
Selasa 13 November 2018, 10:04 WIB

Begini Beratnya Perjuangan Ranger Hutan Leuser Aceh Berpatroli

Agus Setyadi - detikNews
Begini Beratnya Perjuangan Ranger Hutan Leuser Aceh Berpatroli Foto: Gunung Leuser (agus/detikcom)
Banda Aceh - Hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) seluas 2,6 juta hektare jadi habitat terbaik satwa langka. Namun kini kondisinya mulai memprihatinkan. Untuk menjaga Leuser agar tak dijamah pembalak, para ranger berpatroli selama 15 hari setiap sebulan. Seperti apa perjuangan mereka?

Forum Konservasi Leuser (FKL) membentuk dua tim ranger untuk menjaga hutan leuser di wilayah Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, Aceh sejak Juli 2017. Satu tim ranger ini terdiri dari lima orang. Setiap bulan, mereka berpatroli dengan berjalan kaki ke titik yang telah ditentukan. Perjalanan yang ditempuh pun tergolong sangat berat.

Selain medan dengan kondisi geografis dan konturnya yang tinggi dan sangat curam, beban yang dipikul tim ini juga berat. Mereka membawa peralatan patroli dan juga logistik. Jika cuaca sedang hujan, patroli terpaksa dihentikan. Para ranger ini mencari tempat berlindung.



"Secara umum hambatan itu dari alam itu sendiri. Kadang tim ranger kita butuh waktu 20 hari untuk mencapai lokasi itu yang ada di ketinggin 2 ribu Mdpl. Hal ini karena kondisi geografis dan konturnya yang tinggi dan sangat curam. Kondisi seperti itu biasa kita alami," kata Database Manajer Forum Konservasi Leuser, Ibnu Hasyim kepada detikcom, Selasa (13/11/2018).

Jika kondisi yang ditempuh sangat berat dan ranger tetap harus menuju ke lokasi yang ditentukan, mereka biasanya membawa persediaan makanan dua kali lipat. Ada juga kadang FKL memakai jasa porter untuk mengantar logistik tambahan ketika tim sudah setengah perjalanan.

Setiap hari, perjalanan yang ditempuh para ranger ini tergolong jauh. Jika ditotal per-enam bulan, dua tim ranger Beutong Ateuh menyusuri 15 ribu hektare hutan Leuser. Selain di Beutong, empat tim lain yaitu di Gayo Lues dan Bener Meriah, Aceh juga melakukan hal yang sama.



"Jadi enam tim ini bisa menjangkau 46 ribu hektare hutan KEL persemesternya atau per-enam bulan," jelas Ibnu.

Untuk menjaga hutan, para ranger ini mendapat honor dari FKL sesuai upah minimum provinsi Aceh. Ketika patroli, mereka juga diberi uang saku. Selain itu, para ranger ini juga dibekali HP satelit dan GPS.

Ranger-ranger yang direkrut dari berbagai latar belakang termasuk mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini berpatroli untuk memastikan tidak ada pembalakan liar, perambahan dan perburuan satwa langka. Selain itu, juga untuk mencari jejak-jejak satwa yang hidup di kawasan tersebut.

Di hutan leuser sendiri terdapat empat satwa kunci yaitu harimau sumatera, badak sumatera, gajah sumatera, dan orang utan sumatera. Selama patroli pada 2018, dua tim ranger di Beutong Ateuh ini menemukan 172 tanda jejak harimau yang terdiri dari tapak, cakaran, dan kotoran dan bekas makannya. Hasil temuan itu difoto dan kemudian ranger membuat laporan lengkap dengan koordinatnya.



Selain jejak satwa, dalam beberapa tahun terakhir tim patroli ini juga sudah mengamankan 5 ribu jerat yang diduga dipakai pelaku untuk menangkap satwa langka. Jerat-jerat yang ditemukan dibawa pulang untuk kemudian dimusnahkan. Ibnu menduga, sebagian besar jerat tersebut dipakai untuk menangkap harimau.

"Jadi tujuan mereka patroli setiap bulan selama 15 hari untuk memantau satwa liar di dalamnya dan memantau satwa kunci di aceh yaitu gajah sumatera, orang utan sumatera, harimau sumatera dan badak sumatera," ungkapnya.
(agse/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed