DetikNews
Rabu 15 Agustus 2018, 14:35 WIB

Mahfud Md Mengaku 'Dijegal' ke Pilpres, PKB: Dia Masih Emosi

Tsarina Maharani, Marlinda Oktavia Erwanti, Danu Damarjati - detikNews
Mahfud Md Mengaku Dijegal ke Pilpres, PKB: Dia Masih Emosi Ketua DPP PKB Lukman Edy (Muhammad Ridho/detikcom)
Jakarta - Mahfud Md buka-bukaan soal cerita di balik kegagalan dirinya menjadi cawapres untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi). PKB menilai pernyataan Mahfud bagian dari emosi semata.

"Saya kira Pak Mahfud baru cerita sebagian dari yang dia ketahui, sebagian dari yang dia tidak ketahui, terutama yang tidak dia ketahui, kan dia tidak ceritakan," ujar Ketua DPP PKB Lukman Edy di Posko Cemara, Gondangdia, Jakarta Pusat, Rabu (15/8/2018).

"Kita hormati apa yang terjadi, ya mungkin Pak Mahfud masih emosi, walaupun dikatakan legowo kan tapi masih nendang sana nendang kemari. Ya jadi, emosi itu masih ada," lanjutnya.


Lukman pun meminta para pihak memaklumi sikap Mahfud tersebut. Ia meyakini dengan berjalannya waktu, emosi Mahfud akan meredam.

"Kita tunggulah minggu-minggu ke depan saya kira suasana akan berbeda, ketika semua sudah berjalan dengan baik, pasti nanti akan adem," kata Lukman.

Terkait pernyataan Mahfud yang menyinggung pertemuannya dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Lukman membenarkan. Namun ia menekankan tak semua yang diungkapkan Mahfud itu sesuai dengan fakta.

"Saya kira tidak benar sebagian, sebagian memang fakta-fakta itu ada. Kronologis yang disampaikan itu benar. Tapi hal-hal tertutup yang tidak diketahui oleh Pak Mahfud itu kan tidak bisa beliau ceritakan dan ada sebagian yang beliau tidak ceritakan yang beliau ketahui," tuturnya.

Sementara itu, terkait Mahfud yang mengungkap adanya manuver Ma'ruf Amin untuk menjegalnya sebagai cawapres dengan mengancam NU akan meninggalkan Jokowi, Lukman menepis. Menurutnya, tak mungkin PBNU berpolitik.

"Nggak mungkinlah PBNU sampai politik. NU itu kan politik high politics, jadi sampai tunjuk nama itu nggak mungkin, PBNU kan sadar juga positioning-nya bukan parpol, tapi kalau kemudian PBNU mengawal proses politik itu supaya tidak lari dari moralitas ke-NU-an. Saya kira peran yang dilakukan PB NU," ungkap Lukman.

Meski demikian, dengan segala polemik yang saat ini ada, Lukman tetap yakin Mahfud akan mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin. Namun, apakah nantinya Mahfud akan terlibat dalam tim pemenangan, Lukman tidak bisa menerka-nerka.


"Kalau statement Pak Mahfud tadi malam, beliau tetap membantu Pak Jokowi sebagai presiden. Apakah beliau terlibat dalam suksesi Pak Jokowi 5 tahun ke depan? Ya kita nggak tahu, tergantung kesibukan masing-masing," kata Lukman.

"Tergantung dari kesediaan waktu beliau, kalau beliau sibuk mengajar sibuk di BPIP. Orang menteri-menteri aja tidak ada yang masuk dalam tim sukses. Menteri-menteri sibuk bekerja. Menteri-menteri kan nggak boleh masuk timses," lanjutnya.

Adapun anggota Dewan Syuro PKB Maman Immanulhaq berpendapat politik pencapresan kemarin tak mudah ditebak. Banyak pihak yang menjagokan calonnya untuk menjadi cawapres Jokowi, tapi tidak terjadi.

"Pertarungan politik memang sulit dibaca," kata anggota Maman kepada wartawan, Rabu (15/8).
Maman mencontohkan para ketum partai yang juga gagal terpilih sebagai cawapres Jokowi. Namun pada akhirnya parpol koalisi bisa menerima keputusan Jokowi.

"Banyak tokoh, termasuk para ketua umum partai koalisi, mempersiapkan diri agar digandeng Jokowi. Tapi nyatanya tak satu pun ketua partai yang dipilih. Tapi semua memahami keputusan Presiden. Tidak ada yang kecewa, sedih, atau baper," ujarnya.

Meski begitu, Maman mengatakan PKB menghargai blak-blakan Mahfud soal cerita di balik kegagalan menjadi cawapres Jokowi. Ia menyebut kisah itu bisa jadi sarana edukasi politik.

"Kami menghargai keterbukaan Pak Mahfud. Kami juga yakin dengan integritasnya. Itu perlu diungkap sebagai edukasi bahwa politik itu bukan sekadar figur, tapi ada realitas politik yang tidak sederhana karena menyangkut kepentingan yang lebih besar," sebut Maman.

Dia menegaskan Jokowi sendirilah yang memilih KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres. Parpol koalisi sedari awal sepakat menyerahkan keputusan cawapres ke tangan Jokowi.

"Partai koalisi hanya memberi masukan, yakni kriteria sosok yang bisa menaikkan elektoral Jokowi dan juga menuntaskan program Nawacita di periode kedua kepemimpinan Jokowi," jelas Maman.

Sebelumnya, Mahfud Md buka-bukaan soal detik-detik dirinya ditunjuk jadi cawapres pendamping Jokowi yang akhirnya batal. Cerita Mahfud Md begitu detail, menjadi sebuah kisah yang sangat dramatis.

Mahfud mengawali cerita dari pertama kali ia ditemui orang-orang Istana. Tak main-main, yang menemui Mahfud adalah orang terdekat Presiden Jokowi.

"Pada tanggal 1 Agustus pukul 23.00 malam, saya diundang oleh Menteri Sekretaris Negara Pak Pratikno, saya ditemui bersama Pak Teten Masduki lalu saya diberi tahu, 'Pak Mahfud, sekarang pilihan sudah mengerucut ke Bapak, Bapak harap bersiap-siap, nanti pada saatnya akan diumumkan,' oke," kata Mahfud mengungkap detik-detik dirinya diminta jadi cawapres Jokowi, dalam program Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (14/8) malam.

Selain soal komunikasi dirinya dengan pihak Istana, Mahfud pernah ditemui Ketum PBNU Said Aqil Siroj untuk membahas pernyataan soal dirinya yang diberi label bukan kader NU.

"Saya bilang apa juga haknya NU itu mengancam-ngancam kalau bukan kader NU, NU akan tidur. NU akan meninggalkan pemerintah. Apa betul ada begitu," kata Mahfud mengulangi pembicaraannya dengan Said Aqil.

Mahfud Md bicara soal pernyataan Ketua PBNU Robikin Emhas pada Rabu (8/8) yang menyatakan NU akan meninggalkan Jokowi bila cawapres yang dipilih bukan kader NU. Pernyataan ini disebut Mahfud memunculkan 'kegaduhan'.

"Lalu dibantah (Said Aqil), (yang bicara), nggak ada pernyataan itu. Padahal pernyataan itu ada Robikin yang menyatakan dan yang menyuruh itu Kiai Maruf amin. Bagaimana saya tahu kiai Maruf Amin? Muhaimin yang bilang ke saya. He-he-he... ini saya ceritain, menarik ini ceritanya, loh saya memang jujur sih," lanjut Mahfud.


Simak video 'Mahfud MD Digoda Posisi Strategis Tim Pemenangan Jokowi'
(/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed