DetikNews
Selasa 14 Agustus 2018, 19:07 WIB

PAN ke PBB soal 'Liang Lahad': Tak Ada Niat Menyingkirkan

Tsarina Maharani - detikNews
PAN ke PBB soal Liang Lahad: Tak Ada Niat Menyingkirkan Wasekjen PAN Saleh Daulay (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra menilai ada upaya Gerindra-PKS-PAN memasukkan partai yang dipimpinnya itu ke 'liang lahad'. PAN menyebut tak pernah ada niat menyingkirkan PBB.

"Saya kira tidak ada alasan PAN berniat menyingkirkan PBB. Pasalnya, PAN menganggap bahwa PBB adalah mitra fastabiqul khairat yang baik. Bahkan PAN meyakini bahwa tujuan politik PAN dan PBB bisa disinergikan," kata Wasekjen PAN Saleh Daulay kepada detikcom, Selasa (14/8/2018).


Soal tudingan Yusril yang menyebut Gerindra-PKS-PAN tak membantu saat PBB mengalami kesulitan dalam proses verifikasi parpol, Saleh mengatakan hal itu tidak tepat. Saleh menyebut tiap parpol memiliki kesibukan yang sama ketika mengurus tahapan verifikasi yang ditetapkan KPU.

"Pada saat itu, semua partai politik juga sama-sama sibuk. Semuanya fokus mengurus bagaimana agar partainya masing-masing bisa lolos verifikasi," ujarnya.

"Tidak hanya itu, setelah lolos pun, partai-partai masih memiliki kesibukan lain dalam mempersiapkan pileg yang tahapannya juga sudah berlangsung," imbuh Saleh.

Saleh pun menuturkan tudingan Yusril itu hanya perasaan. Dia menegaskan PAN bersama Gerindra dan PKS tak pernah berniat meninggalkan PBB.

"Mungkin saja Pak Yusril merasa ditinggal. Padahal sebetulnya tidak. Perasaan ditinggal itu pun tidak muncul tiba-tiba. Mungkin memang sebelumnya Pak Yusril dan PBB juga mau ikut bergabung dengan koalisi Gerindra, PAN, dan PKS. Namun karena sama-sama sibuk, lalu terkesan ditinggalkan," ucapnya.


Jika di kemudian hari PBB memutuskan bergabung, Saleh menyatakan koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membuka pintu lebar-lebar. Dia yakin Gerindra, PKS, dan Demokrat memiliki pemahaman yang sama.

"Saya yakin Gerindra, Demokrat, dan PKS sependapat dengan PAN. Jika merasa punya pandangan dan nilai perjuangan yang sama, PBB sangat diterima untuk bergabung. Tinggal dibicarakan dengan para pimpinan partai-partai yang ada di koalisi. Dengan cara itu, tidak ada yang ditinggal serta bisa duduk dan berjuang bersama," tegas Saleh.

Yusril merasa Partai Gerindra, PKS, dan PAN tak bersimpati kepadanya. Parpol-parpol pendukung pencapresan Prabowo Subianto itu dinilainya ingin PBB berakhir.

"Kesan saya, bagi Gerindra, PKS, dan PAN, PBB ini lebih baik masuk liang lahad daripada tetap ada," kata Yusril dalam keterangan yang diunggah akun Instagram @yusrilihzamhd.


Dikonfirmasi, Yusril bercerita PBB sempat mengalami kesulitan saat menjalani proses untuk mengikuti Pemilu 2019. Sebanyak 21 daerah pemilihan PBB terganjal proses KPU. Gerindra tak datang membantu. Simpati justru datang dari partai lain non-Koalisi Keummatan yang disebut Yusril sebagai partai sekuler.

"Kita sudah sering bantu Gerindra, tetapi ketika partai kita terpuruk dikerjain KPU, apakah ada sekadar salam menunjukkan simpati kepada kita? Baik Gerindra maupun PKS, PAN yang disebut Koalisi Keummatan itu tidak pernah ada," tutur Yusril.
(tsa/rna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed