DetikNews
Minggu 22 Juli 2018, 18:59 WIB

Kata Tommy Kini KKN Makin Parah? Yuk Lihat Yayasan Supersemar

Andi Saputra - detikNews
Kata Tommy Kini KKN Makin Parah? Yuk Lihat Yayasan Supersemar Tommy Soeharto. (Dok detikcom)
Jakarta - Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) menyebut 20 tahun reformasi tidak ada perubahan. Malah, KKN kini makin parah. Benarkah?

"Reformasi janjikan KKN hilang, tapi nyatanya makin parah. Utang luar negeri semakin besar. Investasi asing pun semakin dimanja," kata Tommy, kepada wartawan di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/7/2018) kemarin.

Lalu bagaimana dengan zaman Orde Baru yang dipimpin oleh bapaknya, Presiden Soeharto? Apakah KKN juga tidak tumbuh subur? Menjawab hal itu, bisa dilihat dalam berkas perkara putusan Yayasan Supersemar. Putusan itu telah berkekuatan hukum tetap dan menunggu dieksekusi.


Dalam Yayasan Supersemar, Soeharto menunjuk dirinya sebagai Ketua Yayasan. Di kaki satunya, sebagai Presiden, Soeharto mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) dan memerintahkan 5 persen dari 50 persen laba bersih bank milik negara disetor ke Yayasan Supersemar.

Setelah uang negara masuk kantong yayasan, uang itu lalu diselewengkan ke kroni Soeharto alias KKN. Yaitu:

1. PT Bank Duta mendapat ratusan juta dolar AS.

Bank Duta pernah terlilit mega korupsi. Wakil Dirutnya, Dicky Iskandar Dinata membobol kas bank sebesar Rp 811 miliar. Atas perbuatannya, Dicky dihukum 8 tahun penjara pada 26 Mei 1992. Dicky diperintahkan mengembalikan uang yang dikorupsi. Bila terdakwa meninggal, ahli waris dan keluarga koruptor itu harus menanggung kerugian negara. Hingga saat ini, uang itu belum dikembalikan ke negara.

Setelah keluar penjara, Dicky dan komplotannya kembali membobol bank yaitu BNI sebesar Rp 1,3 triliun pada 2005. Oleh Artidjo Alkostar, Dicky dihukum 20 tahun penjara, jauh dari tuntutan jaksa yang menuntut hukuman mati. Dicky akhirnya meninggal dunia pada 2015.


Bank Duta sendiri akhirnya bangkrut dan pada 1998 melebur dengan bank lain.

Selain disuntik dari Yayasan Supersemar, Bank Duta juga disuntik dana dari Yayasan Dakab dan Yayasan Dharmais. Di Yayasan Dakab, Soeharto duduk sebagai ketua. Sedangkan dua putranya, yakni Bambang Trihatmodjo dan Hutomo Mandala Putra sebagai wakil sekretaris dan wakil bendahara.

Adapun Yayasan Dharmais alias Dharma Bhakti Sosial, didirikan oleh Soeharto, Sudharmono dan Bustanil Arifin, dan dibentuk pada 8 Agustus 1975.

2. Sempati Air.

Tahun 1989, Humpuss Group milik Tommy Soeharto dan Sigit Soeharto mendapatkan hak mendirikan maskapai swasta pertama yang menggunakan pesawat jet: Sempati Air. Salah satu sumber dananya adalah uang berbagai yayasan yang dikelola Soeharto dan kroni

"Tommy memanfaatkan posisi dan pengaruhnya dengan ayahnya untuk memastikan Sempati Air dibiayai dari penyalahgunaan dana dari berbagai yayasan antara 1989 sampai 1997," urai Direktur Perdata pada Jamdatun Yoseph Suardi Sabda.


Demikian diungkapkan Yoseph dalam persidangan sengketa antara Garnet Investment Limited milik Tommy melawan BNP Paribas Guernsey dan Pemerintah RI di Royal Court Guernsey, Inggris, pada 14-17 Mei 2007 lalu.

Kini Sempati Air bangkrut.

3. PT Kiani Lestari.

Kiani Kertas merupakan anak usaha perusahaan kelompok Nusamba Group milik Bob Hassan. Pria bernama asli The Kian Seng ini dikenal sangat loyal pada keluarga Cendana.


Salah satunya Bob berkongsi bisnis dengan adik Soeharto, Probosutedjo. Mereka kongsi bisnis dalam bisnis perambahan hutan. Setelah Soeharto tumbang, baik Bob dan Probo akhirnya dihukum penjara karena korupsi

4. Dikucurkan ke PT Kalhold Utama, Essam Timber dan PT Tanjung Redep Hutan Tanaman Industri.

5. Diberikan kepada kelompok usaha Kosgoro.

Kosgoro merupakan ormas penyokong terbentuknya Golkar. Dengan kendaraan Golkar di DPR, Soeharto 32 tahun menjadi Presiden.
(asp/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed