DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 23:04 WIB

Kisruh PKS Vs Faizal Assegaf Gegara Bom Surabaya

Niken Purnamasari - detikNews
Kisruh PKS Vs Faizal Assegaf Gegara Bom Surabaya Foto: Audrey Santoso/detikcom
Jakarta - Mantan aktivis 98 Faizal Assegaf berseteru dengan PKS. Salah satunya dipicu oleh cuitan Faizal yang menduga sejumlah elite PKS mendukung radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Dugaan itu disampaikan Faizal melalui cuitan di akun Twitter-nya, @faizalassegaf. Bahkan Faizal menyebut kader PKS terlibat dalam aksi bom di tiga gereja di Surabaya. Lewat tweet, dia meminta Polri dan pemerintah menindak tegas keterlibatan PKS dalam aksi terorisme itu.

"Mestinya Polri & pemerintah bertindak tegas, awasi kantor PKS di seluruh Jawa Timur. Selidiki dugaan keterlibatan kader & loyalis PKS atas teror bom Gereja Surabaya. Jangan lengah, sikap nyinyiran mereka di medsos telah memicu aksi teroris makin agresif bertindak biadab," cuit Faizal pada 13 Mei 2018 lalu. Dilihat Selasa (22/5/2018) hari ini, tweet itu masih ada.



PKS pun menepis tudingan yang dilontarkan Faizal. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyebut PKS tidak mungkin melakukan hal tersebut.

"Ya nggak, atuh (tidak betul tuduhan Faizal Assegaf). PKS itu mazhabnya Islam rahmatan lilalamin (rahmat bagi alam semesta). Bunuh semut saja nggak boleh, apalagi (bunuh) manusia," kata Mardani saat dimintai konfirmasi oleh detikcom, Senin (21/5/2018).

Mardani pun mengungkit latar belakang Faizal. Dia mempertanyakan rekam jejak Faizal.




"Jejak PKS dalam reformasi jelas. Sikap PKS pada 2019 juga jelas. Dibandingkan dengan seorang individu yang, monggo dinilai sendiri latar belakangnya," ujar Mardani.

Dipertanyakan oleh Mardani, Faizal blak-blakan soal latar belakangnya. Faizal mengatakan dirinya sebagai salah satu mantan aktivis gerakan reformasi 98 bersama sejumlah rekan lainnya.

"Latar belakang saya, saya warga negara Indonesia (WNI). Saya mantan aktivis 98 bersama Adian Napitupulu, Anas Urbaningrum. Bisa dilihat rekam jejak saya sebagai aktivis 98," ujar Faizal.



"Saya satu-satunya aktivis 98 yang masih hidup di rumah kontrakan di bawah Sutet di daerah Jakarta Timur. Saya tidak pernah melakukan pencurian uang negara, tidak pernah ada cacat kriminal, bebas bersuara dan menjadi rakyat biasa," lanjutnya.



Buntut dari cuitan kontroversial tersebut, Faizal dilaporkan PKS ke Polda Jatim. Dia dilaporkan dengan dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat 3 juncto Pasal 27 ayat 3 dan/atau Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Faizal kemudian balik melaporkan sejumlah elite PKS ke Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Senin (21/5). Laporan Faizal teregister dengan nomor TBL/2743/V/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 21 Mei 2018. Adapun elite-elite PKS yang dilaporkan adalah Presiden PKS Sohibul Iman, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, eks Presiden PKS Anis Matta, Fahri Hamzah, pengelola akun Twitter PKS, dan beberapa kader PKS, serta Hilmi Firdausi.
(nkn/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed