ADVERTISEMENT

Kisah Novanto: Orang Kuat yang Dipuji Trump dan Kini Masuk Bui

Dhani Irawan - detikNews
Jumat, 04 Mei 2018 14:05 WIB
Setya Novanto akhirnya dijebloskan ke penjara (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Setya Novanto, siang ini, akan dieksekusi. Pria yang pernah dipuji Presiden AS Donald Trump sebagai 'orang kuat' ini akhirnya akan menempati sel di Lapas Sukamiskin.

Setelah 'drama' berlarut-larut yang dilakoni, Novanto mengaku lelah sehingga tak mengajukan banding atas vonis 15 tahun penjara. KPK pun tak mengajukan banding, sehingga vonis Novanto itu berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

Novanto diyakini terbukti menerima duit total USD 7,3 juta dan melakukan intervensi dalam proyek itu. Dia divonis 15 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Novanto juga dihukum membayar uang pengganti USD 7,3 juta yang dikurangi uang Rp 5 miliar yang dikembalikan ke KPK.


Selain itu, hak politik mantan Ketua DPR itu dicabut selama 5 tahun. Dengan begitu, Novanto tidak bisa menempati jabatan publik apapun selama 5 tahun setelah menjalani pemidanaan.

Terlepas dari itu, kiprah Novanto di politik cukup moncer. Awalnya, Novanto merupakan kader Kosgoro di tahun 1974. Kemudian Novanto menjadi anggota Partai Golkar serta terpilih menjadi anggota DPR Fraksi Partai Golkar selama 6 periode berturut-turut sejak 1999.

Kemudian, Novanto menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar dari tahun 2009. Hingga akhirnya di tahun 2014, Novanto menjadi Ketua DPR.


Saat menjadi ketua DPR Novanto pernah menyambangi Trump yang kala itu sedang melakukan kampanye Pilpres. Dalam pertemuan yang belakangan menjadi kontroversi itu, Trump menyebut Novanto sebagai orang kuat.

Dalam perjalanan politiknya, Novanto banyak diterpa kasus seperti 'papa minta saham' namun kasusnya selalu buntu. Hingga pada akhirnya, KPK yang turun tangan menjerat Novanto. Meski sempat lolos di praperadilan, akhirnya Novanto kembali menjadi tersangka dan kini telah dieksekusi.

Berikut perjalanan kasus Novanto hingga akhirnya dijebloskan ke penjara:

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT