DetikNews
Minggu 22 April 2018, 15:02 WIB

Kisah Umar Bakri: Ke Sekolah Renangi Sungai, di Kelas Berhimpitan

Muhammad Bakrie - detikNews
Kisah Umar Bakri: Ke Sekolah Renangi Sungai, di Kelas Berhimpitan Foto: Kondisi ruang kelas siswa SD Umar Bakri. (Bakrie-detikcom)
Maros - Umar Bakri, bocah kelas empat Sekolah Dasar di Dusun Damma, Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu, Maros, Sulawesi Selatan, harus menyeberangi sungai setiap hari ke sekolah. Tak hanya itu, ruang kelas Bakri juga ternyata sempit.

Selepas menantang maut di sungai, Umar bersama murid kelas empat di SDN 130 Inpres Gantarang, harus berdesak-desakan di dalam ruang kelas. Sebab, ruang yang seharusnya untuk satu kelas, disekat menjadi dua kelas.


Sekolah yang dibangun tahun 1993 itu memang sejak dulu kekurangan ruang kelas, meski muridnya kini mencapai 178 orang. Untuk mensiasati, pihak sekolah terpaksa menyekat satu ruangan dengan tripleks. Di ruangan itu, kelas IV dan III disatukan.

Kelas IV terdiri dari 31 orang murid, sementara kelas III sebanyak 28 orang. Padahal, idealnya dalam satu ruang hanya boleh diisi 28 orang.

Kondisi ruang kelas siswa SD Umar Bakri.Kondisi ruang kelas siswa SD Umar Bakri. Foto: (Bakrie-detikcom)

Proses belajar mengajar pun sangat terganggu. Apa lagi, saat dua guru berbeda bersamaan menjelaskan di satu ruangan yang sama itu.

"Jelas mereka sangat sulit berkonsentrasi. Karena suara guru itu saling bersahutan, didengar oleh dua kelas yang berbeda. Guru juga terganggu mengajarnya. Belum lagi kalau ada murid nakal mengganggu kelas lain," kata Kepala Sekolah, Subaeda Sawi, Minggu (22/4/2018).


Pihak sekolah sebenarnya sudah lama meminta penambahan kelas. Namun, jangankan penambahan, untuk rehabilitasi dua kelas yang sudah mulai rusak pun belum mendapatkan respons dari pihak terkait.

"Kita memang punya dana BOS, tapi kan peruntukannya bukan untuk itu. Kami sudah lama sampaikan penambahan kelas, tapi memang belum ada jawaban. Dua kelas lain juga sudah rusak, tapi belum direhab," lanjutnya.

Subaeda menjelaskan pihaknya juga tidak bisa menerapkan sebagian masuk siang. Sebab, rumah para siswa jauh dari sekolah.

"Kenapa kami tidak terapkan masuk pagi dan siang? Karena murid rata-rata jauh dari sekolah. Yang masuk pagi tidak masalah, kalau siang kasihan bisa kemalaman di jalan," terangnya.


Di sekolah itu ada belasan murid yang tinggal di seberang sungai, termasuk Umar Bakri. Tiap hari mereka menantang maut dengan berenang menggunakan ban. Saat musim hujan, terkadang mereka harus alpa selama dua bulan menunggu air sungai surut.

Hal inilah yang membuat pihak sekolah terpaksa memberlakukan kebijakan khusus bagi mereka, termasuk jika mereka datang terlambat ke sekolah. Agar pelajaran mereka tak tertinggal, guru memberikan bimbingan susulan.

"Kami memang memberikan kebijakan khusus bagi murid yang tinggal di seberang. Karena kami tahu persis kondisinya di sana. Kami pernah buka kelas jauh, tapi saat hujan, kami yang tidak bisa ke sana," kata seorang guru, Manai.

Siswa yang berenang itu memang tidak punya pilihan lain. Jembatan yang sudah dibangun sejak 2015, tak juga rampung hingga kini. detikcom melalui kitabisa.com menggalang donasi pembangunan jembatan. Saat ini, sudah mencapai Rp 96.546.214 dari target Rp 200 juta per pukul 14.50 WIB, Minggu (22/4).
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed