Kontroversi Sukmawati, Sastrawan: Puisi Bukan soal Benar-salah

Jabbar Ramdhani - detikNews
Selasa, 03 Apr 2018 18:29 WIB
Foto: Twitter Agus Noor (@agus_noor)
Jakarta - Sastrawan Agus Noor ikut berkomentar soal puisi 'Ibu Indonesia' karya Sukmawati Soekarnoputri yang tengah ramai dibahas. Agus Noor mengatakan puisi tak bisa dinilai dengan cara benar atau salah.

"Puisi itu 'penghayatan/pengalaman puitik personal' yang tiap-tiap orang pasti berbeda pengalaman puitiknya. Perbedaan penghayatan puitik itulah yang membuat puisi asik. Bukan soal salah atau benar," kata Agus Noor lewat akun twitternya @agus_noor seperti dilihat detikcom, Selasa (3/4/2018).


Sastrawan asal Tegal, Jawa Tengah, ini mengatakan pilihan Sukmawati memilih konde yang lebih puitik dibanding cadar bukan sebuah persoalan. Sebab, hal itu berdasarkan pengalaman puitik dari Sukmawati.

Menurut Agus, hal tersebut tak dapat disimpulkan sebuah penghinaan. Dia menambahkan, lewat pengalaman puitik penyair lain, bisa saja ada yang menyebutkan cadar lebih indah dibanding benda lainnya.

"Bagi Sukma, 'konde lebih puitik' dari cadar, ya ga papa. Itu kan pengalaman puitik personalnya. Masa gitu dibilang menghina. Penyair lain mungkin akan menuliskan pengalaman puitiknya: cadar adalah surga melebihi bikini. Ya ndak papa," ujar Agus yang telah menulis banyak buku dan naskah drama itu.


Soal pengamalan puitik, Agus mengambil contoh lain. Menurutnya, ada sebagian orang yang tergetar saat mendengar azan. Hal itu merupakan pengalaman puitik dari seorang individu. Tapi ada juga individu lain yang tak mengalami pengalaman yang sama.

Menurutnya, dari pengalaman puitik yang dialami masing-masing individu, tak dapat dinilai benar dan salah.

"Pengalaman puitik bisa membuat orang 'tergetar mendengar azan', yang lain bisa juga tidak. @sudjiwotedjo tergetar mendengar suara gesekan sendal di aspal orang yang berangkat jumatan. Saya lebih tergetar melihat senyum yg tulus. Tak ada yg lebih benar," ujarnya.


"Ada penyair menulis 'Tuhan adalah kicau burung kecil di pagi hari'. Penyair lain menulis 'Tuhan adalah suara buruk dari toa masjid yang membangunkanku dari mimpi buruk'. Keduanya adalah pengalaman/penghayatan puitik sang penyair. Tak ada mana yang benar atau salah di situ," sambungnya.

Puisi Sukmawati 'Ibu Indonesia' mendapatkan banyak respons dari masyarakat. Di antara mereka ada yang menganggap puisi tersebut melecehkan Islam saat Sukmawati menyebut 'konde lebih indah dari cadar' dan 'suara kidung Ibu Indonesia lebih merdu dari alunan azan'.

Sukmawati sendiri sudah memberi klarifikasi soal puisinya itu. Dia menyebut puisinya itu merupakan opini dari realita yang ada tanpa bermaksud menyinggung masalah SARA.


"Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam, seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain," jelas Sukmawati saat dimintai konfirmasi, Senin (2/4/2018).

Dia mengatakan apa yang dia sampaikan dalam puisi itu merupakan pendapatnya secara jujur. Puisi itu ditulisnya berdasarkan realita namun tetap karya tulis tersebut ditulisnya seperti mengarang cerita.





(jbr/asp)