Ini Alun-alun Suroboyo Sebelum Dibongkar Belanda, Bukan di Balai Pemuda

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 14 Jan 2022 10:05 WIB
Sejumlah pegiat sejarah meminta nama Alun-alun Surabaya atau Alun-alun Suroboyo dikembalikan menjadi Balai Pemuda. Lalu di mana sebenarnya lokasi Alun-alun Surabaya berada?
Alun-alun Surabaya dulu di Kompleks Tugu Pahlawan/Foto: Istimewa (dok.Begandring Soerabaia)
Surabaya - Sejumlah pegiat sejarah meminta nama Alun-alun Surabaya atau Alun-alun Suroboyo dikembalikan menjadi Balai Pemuda. Lalu di mana sebenarnya lokasi Alun-alun Surabaya berada?

Pegiat sejarah Kuncarsono Prasetya menjelaskan, Kota Surabaya sebenarnya pernah punya alun-alun. Namun tempat tersebut sudah hilang. Tepatnya dahulu berada di area Kompleks Tugu Pahlawan.

"Kalau sekarang ya sudah tidak ada alun-alunnya. Tapi dahulu pernah ada lokasinya ya di Tugu Pahlawan itu. Tapi pada akhir abad 18 alun-alun dibongkar sama Belanda karena kena perluasan bastion benteng kota. Nah, benteng itu juga sudah tidak ada sejak tahun 1855," papar Kuncarsono kepada detikcom, Kamis (13/1/2022).

"Waktu itu kompleksnya alun-alun itu mulai dari Jalan Sulung sampai sisi tengah Tugu Pahlawan. Jadi nama Jalan Pahlawan itu dulu namanya Jalan Alun-alun," imbuh salah satu inisiator Komunitas Sejarah Begandring Soerabaia itu.

Basement Alun-alun Suroboyo dipadati warga pada Jumat (24/12) malam. Namun, banyak pengunjung kecewa karena Basement Alun-alun Suroboyo ditutup pukul 19.30 WIB.Alun-alun Suroboyo saat ini di Balai Pemuda/ Foto: Faiq Azmi

Sebagai bukti bahwa di Surabaya pernah ada alun-alun, jelas Kuncarsono, yakni adanya Makam Kiai Sedo Masjid. Makam itu berada di kawasan Tembakan atau sebelah selatan Tugu Pahlawan. Menurutnya, makam itu punya hubungan erat dengan keberadaan Alun-alun kota Surabaya.

"Alun-alun itu di Jawa itu pasti punya filosofis sebagai pusat pemerintahan. Biasanya di sana ada masjid jami, kemudian tempat pusat pemerintahan. Dulu di sana (Tugu Pahlawan) ada masjid dan tempat Kadipaten Surabaya," jelasnya.

"Nah, di sana selain pernah sebagai pusat pemerintahan Kadipaten Surabaya, juga pernah ada masjid jami. Waktu itu masjidnya dibongkar sama Belanda karena kena perluasan bastion benteng. Karena kena perluasan, imam masjid jami, Kiai Sedo Masjid melawan Belanda dan ditembak mati. Makanya tempat itu dinamakan Tembakan," imbuh Kurcarsono.

Atas dasar itu, lanjut Kuncarsono, ia bersama pegiat sejarah lainnya keberatan jika Balai Pemuda dinamakan Alun-alun Surabaya. Sebab secara filosofis tidak memenuhi syarat, penamaan itu juga menghilangkan aspek dan jejak sejarah Balai Pemuda.

"Jadi salah kaprah kalau Balai Pemuda kemudian dinamakan alun-alun. Karena Balai Pemuda ini bukan alun-alun. Balai Pemuda ini punya nilai historis tinggi di mana dulu sebagai tempat para pemuda Surabaya yang diketuai Sumarsono, dan salah satu anggotanya Bung Tomo berkumpul saat perang 10 November 1945," tambahnya.

"Makanya dinamakan Balai Pemuda. Karena dulu waktu 1945 tempat kumpul dan markasnya pemuda. Nah nama Balai Pemuda itu mulai dikenal sejak penyerahan kekuasaan Belanda ke Indonesia dan digunakan sampai sekarang. Tapi nama itu kemudian diubah oleh wali kota sebelumnya menjadi Alun-alun Kota Surabaya," tambah Kuncarsono.

Sebelumnya, sejumlah orang yang mengatasnamakan masyarakat sejarah Indonesia Jawa Timur meminta pemerintah setempat mengembalikan nama Balai Pemuda. Sebab dengan penamaan tersebut, warga Surabaya sudah menghilangkan nilai sejarah dan tidak ada yang mengenali lagi Balai Pemuda. (sun/bdh)