Pegiat Sejarah Rekomendasikan Alun-alun Suroboyo Pakai Nama Balai Pemuda

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 14 Jan 2022 08:59 WIB
Basement Alun-alun Suroboyo dipadati warga pada Jumat (24/12) malam. Namun, banyak pengunjung kecewa karena Basement Alun-alun Suroboyo ditutup pukul 19.30 WIB.
Alun-alun Suroboyo/Foto: Faiq Azmi
Surabaya - Sejumlah orang yang mengaku sebagai Masyarakat Sejarah Indonesia Jawa Timur mempermasalahkan nama Alun-alun Surabaya atau Alun-alun Suroboyo. Mereka merekomendasikan Pemkot Surabaya menghapus nama tersebut dan tetap menggunakan nama Balai Pemuda.

Pegiat Sejarah Kota Surabaya Kuncarsono Prasetya menjelaskan, rekomendasi itu berawal dari diskusi yang diadakan Komunitas Sejarah Begandring. Diskusi bertajuk 'Anomali Alun-alun Kota Surabaya' pada Selasa (11/1) itu diikuti anggota tim cagar budaya dan pakar sejarah dari Unair, Unesa dan UK Petra.

Hasilnya, mereka merekomendasikan nama Alun-alun Surabaya agar dikembalikan lagi menjadi Balai Pemuda. Sebab, perubahan nama Balai Pemuda menjadi Alun-alun Surabaya dinilai telah mengubah aspek sejarah tempat itu.

"Iya awalnya kami menggelar diskusi bersama Masyarakat Sejarah Indonesia Jawa Timur. Moderatornya Pak Purnawan Basundoro Dekan Sejarah FIB Unair, yang juga anggota tim cagar budaya. Ada dari Unesa dan UK Petra juga. Pesertanya ada 75 orang," tutur Kuncarsono kepada detikcom, Kamis (13/1/2022).

"Nah, rekomendasinya (diskusi) agar mengembalikan nama Balai Pemuda karena nama itu mempertimbangkan aspek sejarah. Sebab komplek itu adalah bekas markas para pemuda Indonesia ketika 10 November 1945," tambahnya.

Menurut Kuncarsono, rekomendasi yang dihasilkan itu bukan tanpa dasar. Sebab, pihaknya melalui Komunitas Begandring melakukan wawancara acak kepada pengunjung Alun-alun Suroboyo. Hasilnya 100 persen mereka tidak tahu Balai Pemuda.

"Sebelum diskusi kami sampaikan sebuah video dari Begandring. Video itu kami melakukan wawancara secara acak dan hampir semua pengunjung, 100 persen gak tahu Balai Pemuda. Ini kan miris jadi mereka tahunya Alun-alun Surabaya daripada Balai Pemuda," jelasnya.

Untuk itu, lanjut Kuncarsono, pihaknya dalam waktu dekat akan menyurati Wali Kota Surabaya. Adapun isinya meminta agar mengembalikan nama alun-alun kembali menjadi Balai Pemuda. Meski demikian, pihaknya juga terbuka dan siap berdiskusi dengan Pemkot Surabaya jika memang punya dasar yang kuat.

"Kami belum menyurati. Tapi dalam minggu-minggu ini kami akan berkirim surat ke wali kota agar membuat rekom itu. Jika ada keberatan kami terbuka di forum diskusi. Jika pemkot punya dasar yang kuat kita terbuka untuk menguji dalil," terang Kuncarsono.

Kuncarsono menjelaskan, penolakan terhadap penamaan Balai Pemuda menjadi Alun-alun Surabaya ada sejak 3 tahun lalu. Saat itu ada rencana Pemkot Surabaya di era Wali Kota Tri Rismaharini akan menamai Balai Pemuda menjadi Alun-alun Surabaya.

"Sebenarnya ini inisiatif protes sejak 3 tahun yang lalu sejak proyek alun-alun itu. Tapi sekarang menjadi semakin resah, karena warga di sana sudah tak ada satu pun yang tahu Balai Pemuda tapi kenalnya alun-alun," pungkasnya. (sun/bdh)