22 Penyelundupan Narkoba ke Lapas-Rutan di Jatim Digagalkan Dalam Setahun

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 29 Des 2021 18:06 WIB
Kepala Kanwil Kemenkumham Jatim Krismono
Kepala Kanwil Kemenkumham Jatim Krismono (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya - Upaya penyelundupan narkotika ke lapas dan rutan di Jatim masih marak terjadi. Total dalam setahun, Kemenkumham Jatim melaporkan ada 22 kasus penyelundupan yang diungkap.

Kepala Kanwil Kemenkumham Jatim Krismono menjelaskan penyelundupan narkotika dilakukan dengan berbagai modus. Mulai dari dimasukkan ke dalam kemasan cat, dimasukkan perut ikan, gorengan, hingga botol sampo.

Tak hanya narkotika, masalah utama yang dihadapi yakni penyelundupan alat komunikasi berupa handphone. Hal ini kemudian menjadi atensi dan melakukan deteksi dini untuk pencegahan masalah utama tersebut.

"Terutama telepon genggam dan narkotika yang selama ini menjadi masalah utama," kata Krismono kepada wartawan saat acara reffleksi akhir tahun, Rabu (29/12/2021).

Krismono memaparkan sejumlah penyelundupan narkotika dalam lapas/rutan. Untuk tempat paling banyak ditempati Lapas Surabaya di Porong. Dalam setahun, petugas berhasil menggagalkan sebanyak 6 kali.

Sedangkan urutan kedua ditempati lapas Kediri yakni sebanyak 4 kali penggagalan narkotika. Menurut Krismono, di lapas tersebut, penyelundup melakukan berbagai cara mulai dari dilempar dari luar tembok hingga dimasukkan dalam dubur.

Di urutan selanjutnya, Krismono menyebut rutan klas 1 Surabaya menempati peringkat ketiga. Ia mengatakan, penyelundupan di rutan yang berada di Medaeng ini, rata-rata penyelundup memanfaatkan penitipan barang.

"Kalau di Rutan maupun Lapas Surabaya mayoritas diselundupkan dengan memanfaatkan penitipan barang," tutur Krismono.

Adapun urutan keempat, ditempati lapas Banyuwangi tercatat 2 kali penyelundupan. Pada urutan kelima masing-masing ditempati oleh lapas Tulungagung, Mojokerto, Pamekasan, Jember, Tuban dan rutan Ponorogo yang tercatat sebanyak 1 kali penyelundupan.

Krismono menambahkan, meski berbagai modus dilakukan para penyelundup dan masih minimnya alat deteksi. Namun para petugas lapas/rutan telah optimal melakukan deteksi dini penyelundupan.

Menurut Krismono, kejelian petugas dalam mencegah penyelundupan narkotika karena adanya sinergitas. Antara lain dengan para stakeholder baik dari BNN maupun kepolisian.

"Meskipun alat pendeteksi narkotika masih sangat minim, tapi para petugas kami cukup optimal dalam menghalau masuknya narkotika ke dalam lapas/ rutan," tandas Krismono. (iwd/iwd)