Tiga Tahun, Kasus HIV/AIDS Tulungagung Bertambah 720 Kasus

Adhar Muttaqien - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 20:45 WIB
aids di tulungagung
Foto: Tangkapan layar
Tulungagung -

Kasus infeksi HIV/AIDS di Tulungagung mengalami penambahan secara signifikan selama tiga tahun terakhir. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menemukan 720 kasus.

Sekretaris KPA Tulungagung Ifada Nur Rohmania, mengatakan temuan kasus tertinggi selama periode 2019-2021 terjadi pada Januari 2020 yang mencapai 59 kasus.

"Tiga tahun bertambah sekitar 720 kasus, artinya meskipun ada pandemi temuan kasus HIV/AIDS masih tunggi dan ini merupakan silent kasus," kata Ifada, Rabu (1/12/2021).

Menurut Ifada temuan kasus-kasus baru penularan HIV/AIDS tersebut rata-rata terjadi pada orang yang sering melakukan hubungan seksual dengan bergonta-ganti pasangan.

Untuk menanggulangi pertumbuhan HIV/AIDS, KPA Tulungagung gencar melakukan penyisiran dan pembinaan terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (Odha). Penyisiran bersama sejumlah lembaga terkait dilakukan, guna mempermudah penanganan dan memotong mata rantai penularan.

Ketika ditemukan kasus baru, para Odha maupun keluarga di sekitarnya akan mendapat pendampingan khusus, sehingga Odha memiliki semangat hidup dan rutin mengkonsumsi obat ARV.

"Tantangan penanggulangan HIV/AIDS adalah dukungan dari keluarga yang minim, utamanya dalam support kepatuhan minum ARV," ujarnya.

Dijelaskan, kondisi lain yang juga ikut menghambat penanganan HIV/AIDS adalah masih adanya stigma buruk terhadap para penyintas. Meski demikian Ia bersyukur karena saat ini stigma buruk di masyarakat mulai berangsur-angsur berkurang.

"Bahkan saat ini sudah ada ratusan Odha yang mulai terbuka meskipun pada forum kecil, bahkan mereka mau terbuka untuk riset-riset akademisi. Jumlahnya sekitar 200-an orang," imbuhnya.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka, mengatakan ribuan penyintas HIV/AIDS di Tulungagung didominasi oleh usia produktif antara 25-49 tahun. "Usia produktif 69,86 persen. Mereka berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, mulai dari swasta, PNS, TNI/Polri, anak-anak, siswa/mahasiswa dan lain-lain," ujar Didik.

Sedangkan dilihat dari tingkat kerentanan, risiko tertinggi, 97 persen berasal dari kegiatan seksual berisiko, seperti kelompok transgender, lelaki suka lelaki, wanita pekerja seks maupun kaum lelaki yang suka bergonta-ganti pasangan.

(iwd/iwd)