Tradisi Ganjuran Ada di Lamongan Tergerus Zaman, Perempuan Lamar Pria

Eko Sudjarwo - detikNews
Selasa, 23 Nov 2021 14:59 WIB
salah satu pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan, Iyan dan Hilda
Pasangan baru Iyan dan Hilda/Foto: Istimewa (Dok Pribadi)
Lamongan -

Lazimnya orang menikah, pihak calon suami melamar calon istri. Tapi di Lamongan, justru sebaliknya, perempuan melamar pria. Meski tradisi perempuan melamar pria mulai terkikis, tetapi keunikan ini layak diceritakan sebagai bagian budaya yang pernah eksis karena memiliki sejarah di masa lalu.

Tradisi perempuan melamar pria ini diberi nama Ganjuran tergolong unik. Tradisi turun temurun ini sudah ada sejak masa pemerintahan Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan pada 1640 - 1665. Seperti apa tradisi Ganjuran ini?

Seperti dialami Safari, warga Kecamatan Karanggeneng, Lamongan. Safari mengenang bagaimana dulu orangtua calon istrinya datang ke rumah untuk melamarnya menjadi suami bagi putrinya. Setelah itu dibalas dengan kunjungan orangtuanya ke rumah orang yang sekarang menjadi istrinya untuk memberi jawaban atas permintaan calon mempelai perempuan.

Usai melakukan ganjuran, kedua keluarga kemudian bersepakat untuk menentukan hari H pernikahan.

"Dulu mertua saya yang datang ke rumah untuk melamar saya. Ketika itu (Saat ganjuran), ya bawa makanan atau jajanan semampunya saja," kenang Safari kepada detikcom, Selasa (23/11/2021).

Namun berbeda dengan salah satu pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan, Iyan dan Hilda. Mereka mengaku dari awal tidak memakai tradisi perempuan melamar pria seperti yang dikenal luas di Lamongan.

Hal senada diungkapkan Muhammad (46). Warga Gumining, Kecamatan Tikung, ini pernah dilamar calon istrinya 20 tahun lalu. Saat itu calon istrinya, membawa keluarga melamar dirinya ke Pandaan, Pasuruan.

"Dulu saya dilamar pihak keluarga istri, lalu keluarga saya membalas dengan mendatangi keluarganya. Lalu ditentukan hari pernikahannya," jelas Muhammad kepada detikcom.

Dia mengaku saat itu memang tradisi ganjuran masih lekat dan dipegang kuat warga Lamongan atau keluarga calon istrinya.