Temuan Baru di Candi Tribhuwana Diyakini Mandapa Pemujaan Zaman Majapahit

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 17:19 WIB
Temuan Baru di Candi Tribhuwana Diyakini Mandapa Pemujaan Zaman Majapahit
Ada temuan struktur baru di Candi Tribhuwana Tunggadewi (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto -

Ekskavasi tahap empat Candi Tribhuwana Tunggadewi mendapat temuan baru berupa struktur berbahan bata merah kuno. Bangunan tersebut diyakini berupa mandapa yang berfungsi tempat pemujaan pada zaman Majapahit.

Penggalian arkeologi sejak 27 September hingga 23 Oktober 2021 ditargetkan mengupas lahan seluas 640 meter persegi di sebelah barat Candi Tribhuwana Tunggadewi. Candi yang juga dikenal dengan Situs Bhre Kahuripan atau Situs Watu Ombo ini terletak di persawahan Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto.

"Ekskavasi tahap empat kami temukan struktur bata di sebelah barat Candi Bhre Kahuripan. Struktur tersebut kami identifikasi, dimensinya sudah terlihat 20x15 meter," kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Pahadi kepada detikcom di lokasi, Jumat (22/10/2021).

Arkeolog BPCB Jatim ini menjelaskan, bangunan kuno hasil ekskavasi tahap 4 dikelilingi dinding berbentuk persegi panjang 20x15 meter. Tebal dinding sekitar 70 cm. Tinggi dinding yang ditemukan bervariasi imbas aktivitas penggalian warga sekitar. Yakni paling rendah 1 lapis bata merah, paling tinggi 14 lapis atau sekitar 80 cm.

"Dinding sisi utara belum bisa kami gali penuh karena masih tanah warga, tapi arahnya sudah ketahuan melalui pertemuan di sudut timur laut, itu sudah jelas strukturnya. Makanya kami berani menyatakan dimensi struktur ini 20x15 meter karena keempat sudutnya sudah kami temukan," terang Pahadi.

Pada bagian barat daya dinding keliling tersebut, lanjut Pahadi, juga ditemukan struktur bata yang memanjang ke barat. Ia memperkirakan struktur ini sebagai tangga naik menuju ke dalam area yang dikelilingi tembok. Tim ekskavasi akan menggali sisi timur dinding untuk menemukan struktur tangga turun.

"Asumsi awal kami itu gapura masuk. Hanya saja kami belum menemukan utuh, tapi secara dimensi sepertinya poros tengahnya 7 meter. Kalau dianggap 7 meter ke barat dan 7 meter ke timur, maka dimensinya 14 meter mulai tangga pertama naik sampai turun. Karena umumnya simetris," cetusnya.

Pagar kuno tersebut, kata Pahadi, mengelilingi struktur bata. Dia meyakini bangunan yang dikelilingi tembok adalah mandapa. Yakni altar atau pendapa atau balai sebagai tempat masyarakat zaman Majapahit melakukan pemujaan menghadap ke Candi Tribhuwana Tunggadewi.