Emas Berbentuk Kura-kura Ditemukan di Candi Tribhuwana Tunggadewi

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 17:41 WIB
Ekskavasi Candi Tribhuwana Tunggadewi di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto kembali dilanjutkan. Penggalian arkeologi kali ini salah satunya untuk menemukan bagian pagar dan halaman candi Ratu Majapahit tersebut.
Emas berbentuk kura-kura yang ditemukan di Candi Tribhuwana Tunggadewi/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto -

Emas berbentuk kura-kura ditemukan di area paling sakral di Candi Tribhuwana Tunggadewi, Mojokerto. Pada zaman Majapahit, benda berbahan logam mulia itu dipasang di candi untuk menjaga kestabilan bumi.

Situs Bhre Kahuripan atau Candi Tribhuwana Tunggadewi terletak di persawahan Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Mojokerto. Bangunan suci pada zaman Majapahit seluas 14x14 meter persegi ini terbuat dari batu andesit. Bagian puncaknya terdapat batu yoni berdimensi 191x184x121 cm.

Tepat di bawah yoni terdapat sumur berukuran 250x250 cm. Kedalaman sumur yang sudah diekskavasi mencapai 390 cm. Sebagian dinding sumur kotak ini tersusun dari bata merah kuno. Seperti candi pada umumnya, lubang tersebut menjadi area paling sakral karena tempat menyimpan peripih.

"Peripih bentuknya bermacam-macam, kadang kotak, kadang bulat. Fungsinya untuk wadah barang-barang berharga yang dipakai raja atau ratu semasa hidupnya. Kalau sekelas raja, kebanyakan peripihnya berisi perhiasan emas atau logam mulia," kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Pahadi kepada detikcom di lokasi ekskavasi, Selasa (28/9/2021).

Ia menjelaskan, Situs Bhre Kahuripan dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk 1350-1389 masehi. Hipotesis itu merujuk pada ukiran angka tahun menggunakan Aksara Jawa Kuno di permukaan barat batu yoni. Yaitu 1294 Saka atau 1372 Masehi.

"Candi ini dibangun pada masa Hayam Wuruk untuk pemujaan ke Tribhuwana Tunggadewi. Raja itu kan untuk dihormati, walaupun sudah mati yang dihormati aura magisnya itu. Aura magisnya ditarik dengan peripih yang letaknya di sumuran candi itu," terang Pahadi.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim ini menuturkan, tim ekskavasi telah menggali sumur di Candi Tribhuwana Tunggadewi hingga kedalaman 3,9 meter. Sayangnya tidak ditemukan peripih di dalamnya. Harta karun Ratu Majapahit itu diduga telah dicuri.

"Memang ada upaya pengambilan itu sejak lama. Buktinya sumuran itu sampai kedalaman dua meter sudah banyak tanah adukan. Artinya, sudah digali orang. Dinding timur bagian bawahnya sudah hancur. Sampai ke tengah sumuran kami temukan reruntuhan batunya. Jadi, modelnya dicuri dari samping dengan cara dilubangi dari sisi timur. Tidak ada informasi terkait waktu perusakan itu, apakah masa sebelum kemerdekaan atau setelahnya, kami belum tahu," ungkap Pahadi.

Satu-satunya barang berharga yang ditemukan di sumur Candi Tribhuwana Tunggadewi, kata Pahadi, adalah lempengan emas berbentuk kura-kura. Ia menduga logam mulia tersebut ditanam di luar peripih. Karena emas ditemukan diapit bata merah kuno di dalam sumur.

"Bentuknya kura-kura sepanjang 6 cm terbuat dari emas. Mitologinya kura-kura itu hewan yang menstabilkan atau yang menyangga bumi. Dalam Bahasa Jawa Kuno disebut Kurma atau kura-kura. Saat ini kami simpan di kantor BPCB Jatim," tandasnya.