Peternak Ayam Petelur Blitar Ancam Geruduk Kementan soal Jagung

Adhar Muttaqin - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 15:23 WIB
Puluhan perwakilan peternak ayam petelur asal Blitar dan Tulungagung demo di kantor Bulog setempat. Mereka menagih janji pemerintah soal penyediaan jagung dengan harga wajar.
Puluhan perwakilan peternak ayam petelur asal Blitar dan Tulungagung demo di kantor Bulog/Foto: Adhar Muttaqin/detikcom
Tulungagung -

Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) Blitar demo di Bulog Tulungagung. Mereka mengancam akan menggeruduk Kantor Kementan jika janji penyediaan 30 ribu ton jagung tidak terealisasi.

Koordinator aksi PPRN Blitar, Yesi Yuni, saat unjuk rasa di Bulog Tulungagung mengatakan, para peternak mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan janji penyediaan 30 ribu ton jagung, dengan harga Rp 4.500 per kilogram.

"Tadi sudah kami sampaikan, kalau jagung kami tidak segera datang, tidak segera disalurkan sesuai janji Presiden, kami akan mendatangi Kementan," kata Yesi, Senin (18/10/2021).

Bahkan para peternak mengaku siap menginap di Kementerian Pertanian untuk menuntut realisasi penyediaan jagung tersebut. "Kami siap menginap sampai turunnya jagung ini," ujarnya.

Yesi menambahkan, saat ini ribuan peternak ayam petelur di Blitar dan sekitarnya dalam kondisi terseok-seok. Sebab, harga pakan ternak yang melambung tinggi. Di sisi lain harga telur anjlok hingga Rp 13 ribu per kilogram. Padahal untuk mencapai keuntungan, harga telur di tingkat peternak minimal Rp 21 ribu per kilogram.

Dengan adanya penyediaan jagung seharga Rp 4.500 per kilogram, diharapkan akan memperpanjang keberlangsungan peternakan ayam petelur di wilayah Blitar dan sekitarnya. Disinggung terkait anjloknya harga telur ayam tersebut, Yesi mengatakan, diakibatkan oleh tidak seimbangnya antara suplai dengan daya beli masyarakat.

Menurut Yesi, kondisi itu diperparah dengan adanya pihak integrator peternakan yang ikut memproduksi telur. Sehingga jumlah telur yang beredar di pasaran semakin banyak.

"Sebabnya itu supply dan demand yang tidak seimbang. Kami peternakan rakyat memproduksi telur, sedangkan integrator juga memproduksi telur. Sedangkan serapan atau demand belum membaik dengan adanya PPKM," imbuh Yesi.

Terkait kondisi itu, para peternak ayam petelur rakyat meminta pemerintah untuk menyetop budidaya unggas atau ayam petelur oleh pihak integrator peternakan.

(sun/bdh)