Kasihan Petani Garam! Sudah Kena Anomali Cuaca, Dihantam Impor Pula

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 29 Sep 2021 18:50 WIB
petani garam di surabaya
Petani garam di Surabaya sedang memanen garamnya (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya -

Nasib petani garam semakin tidak menentu. Setelah dihantam anomali cuaca yang mengakibatkan produksi turun, kini mereka harus menerima kenyataan pahit kebijakan garam impor sebanyak 3,07 juta ton.

Salah satu petani garam di Osowilangon Mukawi (60), misalnya. Ia mengaku sejak ada anomali cuaca, terjadi penurunan produksi yang signifikan. Jika rata-rata dalam sekali panen ia mampu memproduksi 200 ton. Kini tak lebih dari 100 ton dalam 5 atau 6 bulan.

"Ya menurun. Karena cuacanya gak normal. Sejak bulan 8 sampai bulan 9 ini juga. Tapi ini sudah normal lagi. Kalau bulan 10 hujan lagi, ya tambah turun," ujar Mukawi saat ditemui detikcom, Rabu (29/9/2021).

"Kalau cuaca normal bisa dapat 200 ton. Tapi sekarang 100 ton saja gak sampai," imbuh Mukawi.

Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam Indonesia Muhammad Hasan mengatakan jika cuaca baik, petani garam bisa mengahasilkan 3 juta ton dalam skala nasional. Namun karena adanya anomali cuaca, maka petani garam hanya bisa memproduksi sekitar 1 juta ton.

"Dengan anomali cuaca ini, petambak hanya bisa memproduksi sekitar 1 juta ton garam. Padahal kalau cuaca baik, garam bisa diproduksi sekitar 3 juta ton," terang Hasan.

Meski begitu, lanjut Hasan, turunnya produksi garam tahun ini tidak bisa dijadikan alasan untuk impor. Sebab stok garam nasional saat ini masih ada dan belum terserap.

"Seandainya cuacanya baik. Menghasilkan 3 juta dengan total kebutuhan garam nasional kita mencapai 4,2 juta ton itu tetap mengalami kekurangan. Dan kekurangan itu kan tidak seberapa sebenarnya," papar Hasan.

"Akan tetapi stok garam rakyat kita masih ada. Sehingga kebijakan impor nantinya tahun 2022 kita harapkan itu menyesuaikan dengan data kebutuhan dengan melihat stok garam nasional. Baik yang ada di masyarakat petambak, stok garam di pabrikan sehingga kita bisa mengukur kebutuhan kita berdasarkan atas dasar stok dasar kita," tandas Hasan.

(iwd/iwd)