Mitos Rebana Guntur Geni, Alat Dakwah Pangeran Benowo di Jombang

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 09:01 WIB
Pangeran Benowo yang makamnya diyakini berada di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Jombang dikenal sebagai sosok yang tidak haus kekuasaan. Ia memilih menyebarkan ajaran Islam daripada meneruskan tahta ayahnya sebagai Sultan Pajang di Jawa Tengah.
Rebana Guntur Geni/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Jombang -

Pangeran Benowo meninggalkan kekuasaannya di Kesultanan Pajang demi menyebarkan ajaran Islam. Putra Jaka Tingkir ini diyakini wafat dan dimakamkan di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Jombang.

Terbang atau Rebana Guntur Geni konon salah satu benda peninggalan Pangeran Benowo. Saat ini, alat musik tersebut dipajang pada salah satu dinding bangunan yang menaungi Makam Pangeran Benowo.

"Kulitnya dari kulit kebo lando, kayunya dari pohon cabai. Nampaknya tidak masuk akal pohon cabai kok sebesar itu, tapi yang membuat wali," kata Juru Kunci Makam Pangeran Benowo, Watono (69) kepada wartawan di lokasi, Selasa (21/9/2021).

Ia menjelaskan, Terbang Guntur Geni menjadi salah satu alat Pangeran Benowo dalam menyebarkan ajaran Islam di Desa Wonomerto pada masa itu. Konon rebana ini menyemburkan api saat ditabuh sang pangeran.

"Pangeran Benowo memakai Terbang Guntur Geni, ditabuh apinya menyembur. Makanya dinamakan Guntur Geni," terang Watono.

Selain keindahan alam dan durian, Kecamatan Wonosalan, Jombang juga mempunyai destinasi wisata religi. Yaitu Makam Pangeran Benowo, pewaris tahta kesultanan Pajang, Jateng.Makam Pangeran Benowo/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom

Mitos Terbang Guntur Geni tidak sampai di situ. Menurut Watono, rebana lawas ini konon bisa mandi sendiri ke sungai di Dusun Wonomerto setiap Kamis Legi dan Jumat Pahing.

Karena kedua hari tersebut dipercaya menjadi momen Pangeran Benowo menabuh Rebana Guntur Geni hingga menyemburkan api. "Oleh karena itu sampai sekarang setiap Kamis Legi dan Jumat Pahing saya adakan rutinan baca tahlil, yasin, istigasah dan sebagainya," ungkapnya.

Mitos lainnya di Makam Pangeran Benowo terkait hari Jumat Legi dan Jumat Wage. Menurut Watono, makam ditutup dari peziarah setiap hari tersebut.

"Pesan Pangeran Benowo kalau ada tamu dilarang masuk karena hari itu ada pertemuan khusus para tokoh, para sunan, para wali. Kala itu ada dua tamu nekat masuk dihajar sampai mati oleh prajurit pangeran. Maka Pangeran Benowo menegaskan jangan ada tamu lagi pada hari yang sama agar kejadian serupa tidak terulang," terangnya.

Pangeran Benowo merupakan pewaris tahta Kesultanan Pajang yang kini menjadi wilayah Solo dan Sukoharjo, Jateng. Ayahnya, Sultan Adiwijaya atau Jaka Tingkir pendiri Kesultanan Pajang yang berkuasa 1568-1583 masehi. Sedangkan ibunya, Ratu Mas Cempaka adalah putri Sultan Trenggana, Raja Demak periode 1521-1546 masehi.

Simak juga 'Melihat Patung Ikonik Daendels dan Pangeran Kornel di Sumedang':

[Gambas:Video 20detik]