Kisah Pangeran Benowo Tinggalkan Tahta Kesultanan Pajang Demi Dakwah Islam

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 08:15 WIB
Pangeran Benowo yang makamnya diyakini berada di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Jombang dikenal sebagai sosok yang tidak haus kekuasaan. Ia memilih menyebarkan ajaran Islam daripada meneruskan tahta ayahnya sebagai Sultan Pajang di Jawa Tengah.
Makam Pangeran Benowo/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Jombang -

Pangeran Benowo yang makamnya diyakini berada di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Jombang dikenal sebagai sosok yang tidak haus kekuasaan. Ia memilih menyebarkan ajaran Islam daripada meneruskan tahta ayahnya sebagai Sultan Pajang di Jawa Tengah.

Pangeran Benowo merupakan pewaris tahta Kesultanan Pajang yang kini menjadi wilayah Solo dan Sukoharjo, Jateng. Ayahnya, Sultan Adiwijaya atau Jaka Tingkir pendiri Kesultanan Pajang yang berkuasa 1568-1583 masehi. Sedangkan ibunya, Ratu Mas Cempaka adalah putri Sultan Trenggana, Raja Demak periode 1521-1546 masehi.

Ia dikenal sebagai sosok yang tidak gila dengan jabatan maupun kekuasaan. Tokoh bergelar Prabuwijaya itu hanya satu tahun menjadi Sultan Pajang, 1586-1587 masehi. Pangeran Benowo meneruskan kepemimpinan saudara iparnya, Arya Pangiri yang berkuasa tahun 1583-1586 masehi.

Selanjutnya, Pangeran Benowo merelakan Kesultanan Pajang menjadi kadipaten bagian dari Kesultanan Mataram Islam. Kala itu Mataram dipimpin Panembahan Senapati Sutawijaya yang berkuasa tahun 1586-1601 masehi. Sutawijaya tak lain adalah kakak angkat Pangeran Benowo.

"Pangeran Benowo merelakan warisan ayahnya kepada Senapati Mataram yang dianggap kakaknya. Ia meninggalkan Pajang untuk membaktikan diri ke agama. Senapati lalu menyerahkan Pajang ke Gagak Bening. Tiga tahun kemudian Gagak Bening wafat, Pajang diserahkan kepada putra Pangeran Benowo, Pangeran Benowo II," kata Pemerhati Sejarah Jombang Dian Sukarno kepada wartawan, Selasa (21/9/2021).

Selain keindahan alam dan durian, Kecamatan Wonosalan, Jombang juga mempunyai destinasi wisata religi. Yaitu Makam Pangeran Benowo, pewaris tahta kesultanan Pajang, Jateng.Makam Pangeran Benowo/ Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom

Keluar dari lingkaran kekuasaan, lanjut Dian, Pangeran Benowo menyebarkan ajaran Islam ke wilayah Jawa Timur untuk mendekati leluhurnya. Karena menurut dia, Benowo merupakan keturunan dari Brawijaya V atau Girindrawardhana Dyah Raṇawijaya, Raja Majapahit 1474-1498 masehi.

"Pangeran Benowo ahli tasawuf, tidak memikirkan duniawi, pangkat, jabatan. Di internal kerajaan terjadi perebutan kekuasaan, intrik-intrik sehingga Pangeran Benowo pindah ke daerah Kedu. Di sana tak lama ada wangsit, kemudian beliau meneruskan perjalanan ke timur untuk mendekati leluhurnya, versi folklor adalah Brawijaya V," terangnya.

Perjalanan Pangeran Benowo sampai di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Jombang. Di kampung ini sang pangeran mengajarkan Islam ke masyarakat setempat. Hingga kini mayoritas penduduknya adalah muslim.

Dian meyakini Pangeran Benowo wafat dan dimakamkan di kampung ini. "Dalam perjalanannya, Pangeran Benowo membentuk desa-desa mulai perbatasan Kandangan, Kediri sampai Wonosalam. Yang terakhir beliau tinggal di Wonomerto. Karena di makam Wonomerto ditemukan tiga artefak, kitab tulisan tangan, pedang dan beduk. Ini menguatkan makamnya ada di Wonosalam," terangnya.

Sejarawan Jombang Nasrullah menuturkan, Pangeran Benowo hanya satu tahun menjadi Adipati Pajang. Kala itu Pajang menjadi kadipaten di wilayah Kesultanan Mataram yang dipimpin Sutawijaya.

Simak juga 'Astana Gede Kawali Ciamis, Jejak Akhir Peradaban Kerajaan Sunda Galuh':

[Gambas:Video 20detik]