Petugas dan Nelayan Pacitan Serentak Simulasi Mitigasi Gempa dan Tsunami

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Jumat, 10 Sep 2021 14:46 WIB
Petugas dan Nelayan Pacitan Serentak Simulasi Mitigasi Gempa dan Tsunami
Simulasi bencana (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan -

Dua kapal mesin bersandar di Tempat Pendaratan Ikan (PPI) Tamperan. Puluhan orang tampak menurunkan tumpukan ikan tuna berukuran raksasa. Aktivitas tersebut mendadak terhenti. Para nelayan pun panik usai diguncang gempa.

Tak berselang lama, bunyi sirene terdengar dari kejauhan. Dua truk polisi tiba di lokasi. Sesaat setelah diparkir beberapa personel menghampiri para nelayan. Petugas terdiri dari anggota polri, polairud, dan TNI AL mengimbau nelayan segera mengungsi.

"Berkaitan gempa yang baru saja terjadi berpotensi tsunami. Para nelayan diimbau segera menyelamatkan diri ke titik kumpul," ucap personel TNI menggunakan pengeras suara.

Mendengar pemberitahuan itu, para nelayan bergegas turun dari kapal. Mereka lantas naik ke bak truk. Kendaraan berwarna abu-abu itu lantas melaju kencang. Tujuannya ke tempat pengungsian sementara, Bukit Jaten.

Tentu saja, itu bukan kejadian sebenarnya. Adegan tersebut merupakan bagian dari simulasi mitigasi bencana gempa dan tsunami. Acara yang dihelat TNI/Polri bersama pemkab dan nelayan bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terkait ancaman tsunami.

"Kegiatan seperti ini sudah kita laksanakan bulan Februari yang lalu. Hari ini kita laksanakan lagi sekaligus bertepatan dengan HUT TNI AL ke-76," kata Kapolres Pacitan AKBP Wiwit Ari Wibisono usai simulasi, Jumat (10/9/2021).

Kegiatan simulasi, lanjut Wiwit memang difokuskan di wilayah Pantai Tamperan, Kelurahan Sidoharjo. Salah satu alasannya karena kawasan itu menjadi pusat aktivitas nelayan. Adapun penekanannya pada upaya menyelamatkan warga yang berpotensi terpapar langsung.

Marjuki, nelayan setempat mengaku sempat kaget saat mendengar pemberitahuan melalui megaphone. Terlebih saat itu dirinya tengah sibuk menurunkan hasil tangkapan dari atas kapal. Hanya saja karena menyangkut keselamatan, dirinya langsung berhenti bekerja dan mengikuti arahan petugas.

Diakui, pemahaman terkait pengurangan risiko bencana amat penting bagi warga yang beraktivitas di kawasan pantai. Apalagi terjadinya gempa tak dapat diprediksi. Dia pun mengaku mendapat pengetahuan baru terutama tentang tata cara menyelamatkan diri saat situasi darurat.

"Pelatihan seperti ini memang penting. Terutama justru saat berlangsung bongkar muat. Kalau kita pas di tengah lautan kan justru ndak merasakan kalau ada gempa," tuturnya.

Untuk diketahui, Kabupaten Pacitan memiliki panjang pantai 70 KM. Sebagian merupakan tempat sandar perahu nelayan sekaligus jadi pusat jual beli hasil laut. Selain itu banyak pula wilayah pesisir yang menjadi tempat hunian warga.

(fat/fat)