Kajian BMKG: Potensi Tsunami Non-tektonik di Pulau Seram Maluku Tinggi

Jabbar Ramdhani - detikNews
Rabu, 08 Sep 2021 18:44 WIB
Poster
Ilustrasi tsunami (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut wilayah Pulau Seram, Maluku, punya potensi bahaya tsunami non-tektonik yang cukup besar. Tsunami non-tektonik adalah tsunami yang bukan disebabkan oleh gempa.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati bersama tim menelusuri dan verifikasi zona bahaya yang dilakukan BMKG di Pulau Seram menunjukkan bahwa sepanjang garis pantai pulau tersebut merupakan laut dalam dengan tebing-tebing curam yang sangat rawan longsor.

"Gempa menjadi trigger terjadinya longsor yang kemudian menyebabkan gelombang. Dalam pemodelan, dapat disimpulkan apakah berpotensi menimbulkan tsunami atau tidak. Bisa saja tidak, tapi ternyata gempa tersebut malah membuat longsor bawah laut yang kemudian memicu tsunami," kata Dwikorita dalam keterangannya, Rabu (8/9/2021).

Dwikorita mengunjungi sejumlah lokasi di Pulau Seram, yakni Negeri Samasuru, Negeri Amahai, Kota Masohi, dan Negeri Tehoru. Dia didampingi tim BMKG bersama BPBD setempat, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Pattimura, serta peneliti dari LIPI dan Badan Geologi.

Dia datang ke daerah tersebut untuk melakukan verifikasi peta bahaya dan menyusuri jalur evakuasi, dan mendengar langsung kesaksian dan cerita warga tentang terjadinya gempa dan tsunami masa lalu.

"Di Negeri Tehoru saya melihat langsung jejak tanah yang longsor ke laut. Di Samsuru, warga setempat bahkan telah melakukan perhitungan kedalaman laut dari batas bibir pantai. Jarak 3 meter dari bibir pantai, kedalaman laut sudah mencapai 23 meter," terangnya.

Tsunami Non-tektonik Belum Bisa Dideteksi Cepat

Dwikorita mengatakan, hingga saat ini belum ada negara yang mampu mendeteksi tsunami non-tektonik secara cepat, tepat, dan akurat. Sistem peringatan dini yang dibangun negara-negara di dunia adalah sistem peringatan dini tsunami akibat guncangan gempa bumi.

Selama ini, kata dia, yang bisa dilakukan adalah memantau muka air laut dengan buoy atau tide gauge.

Namun cara tersebut kurang efektif karena sifat alat yang baru bisa menginformasikan setelah kejadian tsunami. Jadi saat alat tersebut memberikan warning, sudah terlambat, tsunami sudah datang.

"Karena dipicu oleh longsoran bawah laut, estimasi waktu kedatangan tsunami bisa sangat cepat. Hanya dalam hitungan kurang dari 3 menit, seperti yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah," imbuhnya.

Warga Latihan Mitigasi Bencana Rutin

Oleh karena itu, Dwikorita meminta masyarakat yang berada di sepanjang garis pantai di Pulau Seram segera melakukan evakuasi mandiri apabila merasakan getaran/guncangan tanah atau gempa bumi tanpa harus menunggu peringatan dini BMKG.

"Belajar dari pengalaman, tidak usah menunggu peringatan dini tsunami. Segera lari begitu merasakan getaran tanah atau gempa. Jauhi pantai dan segera lari ke bukit-bukit atau tempat yang lebih tinggi," pinta Dwikorita.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan Kepulauan Maluku memiliki sejarah panjang gempa bumi dan tsunami. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dengan pihak terkait dapat melakukan berbagai upaya mitigasi guna mengurangi dampak dan risiko kerugian jika sewaktu-waktu bencana gempa dan tsunami terjadi.

"Masyarakat harus terus dilatih sehingga tahu apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi, di samping penyiapan tempat evakuasi yang secepat mungkin dapat dicapai, melalui jalur-jalur evakuasi yang aman yang disertai rambu-rambu yang jelas," ungkapnya.



Simak Video "Detik-detik Tsunami Terjang Maluku Tengah Usai Gempa M 6,1"
[Gambas:Video 20detik]
(jbr/idh)