Angka Perceraian di Surabaya Semakin Turun Selama Penerapan PPKM

Amir Baihaqi - detikNews
Kamis, 26 Agu 2021 13:59 WIB
Agreement prepared by lawyer signing decree of divorce (dissolution or cancellation) of marriage, husband and wife during divorce process with male lawyer or counselor and signing of divorce contract.
Ilustrasi sidang perceraian (Foto: Getty Images/iStockphoto/Pattanaphong Khuankaew)
Surabaya -

Angka perceraian di Surabaya mengalami penurunan selama penerapan PPKM. Penurunan itu terjadi dalam kurun 3 bulan terakhir.

Panitera Pengadilan Agama (PA) Klas I Surabaya Abdus Syakur mengatakan turunnya angka tersebut karena pihaknya mengurangi jam layanan. Itu disebabkan karena pihaknya mengikuti kebijakan PPKM.

"Iya, ada penurunan. Dikarenakan pengurangan jam layanan dan pembatasan jumlah pengunjung," terang Syakur kepada detikcom, Kamis (26/8/2021).

Menurut Syakur, penurunan itu terjadi selama 3 bulan terakhir. Rinciannya pada bulan Mei ada 367 perkara, Juni sebanyak 683 perkara dan Juli yakni 349 perkara. Dari perkara yang ada tersebut, cerai gugatan lebih banyak mendominasi.

Syakur kemudian membandingkan sebelum adanya PPKM, perkara perceraian yang ditangani bisa mencapai 800 perkara per bulannya.

"Kalau tidak masa Pandemi dan PPKM perbulan rata-rata 800 perkara. Di masa pandemi dan PPKM rata-rata 500 perkara terkadang di bawah 500 perkara," jelasnya.

"Jadi ada penurunan sekitar 300 sampai 500 perkara setiap bulannya," imbuh Syakur.

Sedangkan untuk faktor-faktor yang menjadi pemicu perceraian, lebih banyak dikarenakan faktor klasik. Antaranya yakni perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus serta faktor ekonomi.

(iwd/iwd)