Ini Sisi Positif Ditutupnya Pendakian Gunung Bromo dan Semeru Jelang HUT RI

Muhammad Aminudin - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 13:33 WIB
Gunung Semeru (Nur Hadi Wicaksono/detikcom)
Gunung Semeru (Nur Hadi Wicaksono/detikcom)
Malang -

Tradisi perayaan HUT Republik Indonesia di Gunung Semeru ditiadakan karena penutupan jalur pendakian. Keputusan ini membawa dampak positif bagi ekosistem.

Gunung Semeru dan Gunung Bromo masih menutup akses bagi wisatawan maupun pendaki karena pandemi COVID-19.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) selaku pengelola memanfaatkan momentum ini untuk pemulihan ekosistem.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar TNBTS, Sarif Hidayat mengatakan dengan penutupan yang masih diberlakukan. Maka, wilayah taman nasional akan bisa terhindar dari tumpukan sampah.

Biasanya, lanjut Sarif, banyak pendaki ingin mengikuti tradisi peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dengan ditandai pendakian ke Gunung Semeru.

"Wilayah TNBTS masih ditutup total, otomatis tidak dibuka juga jalur pendakian. Dengan begitu, maka punya nilai positif bagi ekosistem, terutama soal sampah," kata Sarif kepada detikcom, Senin (16/8/2021).

Sarif menambahkan, bahwa penjagaan ketat dibantu TNI-Polri diterapkan di pintu masuk kawasan taman nasional. Utamanya di Pos Coban Trisula masuk wilayah Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Karena, titik tersebut merupakan akses warga lokal menuju kawasan Ranupane, Kabupaten Lumajang.

"Penjagaan di pos-pos masuk juga dibantu TNI-Polri dan volunteer, seperti di Pos Coban Trisula merupakan akses warga ke Lumajang," imbuh Sarif.

Berdasarkan data Balai Besar TNBTS, jumlah wisatawan tahun 2019 sebanyak 22.061 pengunjung asal mancanegara, wisatawan lokal sebanyak 699.021 pengunjung.

Sementara di tahun 2020, jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 2.658 pengunjung dan wisatawan lokal sebanyak 193.733 orang.

Dengan jumlah kunjungan sebanyak itu, kata Sarif, volume sampah bisa mencapai 13 ton per tahun.

"Volume sampah ketika taman nasional dibuka sampai 13 ton. Dengan masih ditutupnya taman nasional, maka wilayah kita terbebas dari sampah pengunjung," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Sarif juga memastikan destinasi wisata Gunung Bromo belum dibuka untuk wisatawan. Sekaligus menepis informasi wisata gunung tereksotik di Jawa Timur itu sudah dibuka kembali.

"Kalau ada yang bilang Bromo sudah buka berarti hoaks, karena memang belum buka," tegas Sarif Hidayat.

Pembukaan kembali masih menunggu rekomendasi tertulis dari empat kepala daerah yakni Bupati Lumajang, Kabupaten Malang, Probolinggo dan Pasuruan. Sesuai kesepakatan bersama saat rapat koordinasi pada pertengahan Juli silam.

Bahwa obyek wisata Bromo bisa dibuka lagi, apabila keempat daerah itu sebagai pintuk masuk sudah masuk zona kuning.

Sejauh ini surat rekomendasi yang sudah keluar baru dari Bupati Probolinggo. Tiga daerah lainnya masih belum.

"Kami masih menunggu rekomendasi dari tiga kepala daerah lainnya," beber Sarif.

(iwd/iwd)