Jumlah Pasien COVID-19 Surabaya di Tempat Isolasi Turun Drastis

Jumlah Pasien COVID-19 Surabaya di Tempat Isolasi Turun Drastis

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Jumat, 13 Agu 2021 16:45 WIB
RS Lapangan Tembak (RSLT) Surabaya mulai beroperasi pada Minggu (11/7) sore. Ada 180 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit tersebut.
RS Lapangan Tembak Surabaya (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya - Jumlah pasien COVID-19 yang menjalani isolasi di tempat isolasi yang disediakan Pemkot Surabaya terus menurun. Bahkan ada tempat isolasi yang sudah kosong dari pasien COVID-19.

Tempat isolasi yang kosong tersebut adalah Rumah Sakit Lapangan Tembak (RSLT). Rumah sakit darurat tersebut sudah kosong dari pasien sejak lima hari terakhir.

"Rumah sakit lapangan tembak (RSLT). Alhamdulillah dari lima hari kemarin tidak ada penghuninya. Kami berharap tidak akan dihuni kembali," ujar Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara kepada wartawan di kantor Humas Pemkot Surabaya, Jumat (13/8/2021).

Sedangkan di rumah sakit darurat GBT, saat ini masih ada 8 pasien pasien OTG. Rencananya 8 pasien OTG tersebut akan dipindahkan ke lokasi isolasi lain yakni di Hotel Asrama Haji (HAH).

"Untuk rumah sakit darurat Bung Tomo, hari ini tinggal 8 (pasien) dan statusnya OTG. Insyaallah coba akan kami pindahkan ke asrama haji. Karena di sana juga masih ada sekitar 252 orang dari kapasitas 899. Ini bisa di bilang bagus tapi kita tidak boleh lengah," ungkap Febri.

Febri menambahkan, per hari ini ada 600 bed di Hotel Asrama Haji yang kosong, dari 899 kapasitas yang disediakan. Sedangkan tempat isolasi di Rumah Sakit dr Soewandhi saat ini ada 174 bed isolasi yang kosong.

"Sedangkan di rumah sakit BDH, ada sekitar 50-an yang kosong untuk penanganan COVID-19. Kami berharap itu tidak digunakan," kata Febri.

Tidak hanya rumah sakit darurat saja yang disiapkan Pemkot Surabaya dalam penanganan COVID-19 di Surabaya. Ada dua hotel yang juga disediakan oleh Pemkot Surabaya untuk ruang isolasi. Dan dua hotel tersebut saat ini hanya terisi 15 orang yang menjalani isolasi.

Sementara itu, untuk pasien COVID-19 yang menjalani isolasi di rumah sehat yang didirikan di beberapa kecamatan, Febri menyampaikan secara kumulatif jumlah pasien yang isolasi mandiri sebanyak 2.200 orang dan yang berhasil dipindahkan ke rumah sehat sebanyak 1.900 orang. Kini hanya tinggal puluhan orang saja yang menghuni rumah sehat.

"Saat ini hanya 34 orang yang menempati rumah sehat yang ada di Surabaya. Yang lain di mana, ada di Asrama haji dan hotel dan tadi 8 di Gelora Bung Tomo," ungkap Febri.

Febri mengakui ada penurunan kasus positif COVID-19 di Surabaya. Berdasarkan data yang di-declare oleh pemerintah pusat kemarin ada 700 kasus.

"Kalau bilang penurunan ya ada penurunan angka tambahan positif. Angka kemarin 700. Dua hari kemarin ada 300, itukan fluktuatif, naik turun. Tapi sekali lagi itu data declare adalah data delay. Sebingga tugas kami dari pemerintah adalah melakukan tracing dari data declare itu. Kami lihat ada separuh sembuh," lanjut Febri.

Tidak hanya itu, untuk angka pemakaman secara protokol kesehatan di TPU Keputih dan Babat Jerawat juga mengalami penurunan.

"Itu cenderung mengalami penurunan. Kemarin tanggal 12 Agustus, alhamdulillah hanya 18 yang dilaksanakan pemakaman protokol kesehatan. Kemudian 10 Agustus di angka 20 dan 18," ungkap Febri.

Diakui atau tidak, Febri menyampaikan PPKM sangat efektif memutus mata rantai penyebaran COVID-19 di Surabaya.

"Memang, diakui atau tidak, bahwa pembatasan mobilitas itu mengurangi penyebaran kasus. Ini terbukti dari pelaksanaan PPKM ini," tandas Febri. (iwd/iwd)