Hingga Kemarin, Hanya 30 Orang yang Jalani Isolasi di RS Lapangan Tembak

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Senin, 09 Agu 2021 17:53 WIB
RS Lapangan Tembak (RSLT) Surabaya mulai beroperasi pada Minggu (11/7) sore. Ada 180 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit tersebut.
Bed di RS Lapangan Tembak (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Pasien yang menjalani isolasi di rumah sakit lapangan tembak (RSLT) mulai berkurang. Hingga kemarin, hanya tinggal 30 orang yang menjalani isolasi di RS darurat tersebut.

"Kalau sekarang terkait dengan kondisi di RSLT sudah mulai jauh berkurang. Bahkan kemarin tinggal 30 orang. Mungkin hari ini ada yang masuk lagi," ujar Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi kepada wartawan di Balai Kota Surabaya, Senin (9/8/2021).

Sedangkan untuk total Bed Occupancy rate (BOR) di rumah sakit di Surabaya, Eri menyebut mulai menurun. Eri menyampaikan saat ini BOR RS sekitar 70 persen.

"Kalau total BOR yang di rumah sakit Surabaya sekitar 70 persen. Sudah mulai agak turun," ungkap Eri.

"Selain di RSLT, masih ada yang isolasi di GOR Bung Tomo. Kami berharap kosong semua," lanjut Eri.

Meski terjadi penurunan, Eri tetap meminta seluruh pihak untuk tidak lengah dan tetap menjaga protokol kesehatan.

"Kita harus menjaga protokol kesehatan. Bukan berarti kita lengah. Sehingga rumah-rumah sehat harus tetap ada. Rumah sehat ini bukan untuk ketika kita diserang kaget baru berdiri. Tapi akan berdiri selamanya," ungkap Eri.

Alasan Eri mempertahankan rumah-rumah sehat di setiap kelurahan, ialah nantinya jika muncul varian baru, tempat isolasi dan para relawan di setiap kelurahan sudah siap.

"Jadi fainsyallah ini akan kita tetap Bentuk. Insyallah rumah sehat tetap ada. Jadi ketika kita tidak meminta, ketika ada penyakit, COVID-19 ini ada varian baru. Kita sudah siap seperti hari ini. Baik itu relawan-relawan di masing-masing kelurahan," ungkap Eri.

Eri kembali menegaskan agar semua masyarakat di Kota Surabaya tetap menjalankan protokol kesehatan.

"Karena itu, saya berharap warga Surabaya tetap menjaga protokol kesehatan. Karena ketika protokol kesehatan sudah dijaga, Angka penurunannya turun drastis. Tidak ada lagi kenaikan signifikan sehingga ekonomi bisa berputar kembali. Karena ketika ekonomi kembali berputar maka manfaatnya buat masyarakat Surabaya sendiri," tandas Eri.

(iwd/iwd)