Baritan Jelang Suroan Digelar di Blitar, Doanya Seragam Terbebas dari Corona

Erliana Riady - detikNews
Senin, 09 Agu 2021 21:08 WIB
baritan di blitar
Baritan di Blitar (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Selamatan yang digelar warga di jalan desa atau baritan jelang Suroan serentak dilakukan warga Blitar. Dengan membawa tangkir plontang, doa mereka seragam agar segera terbebas dari Corona.

Pantauan detikcom, beberapa desa yang menggelar baritan sore ini adalah Desa Selopuro, Desa Sawentar dan Desa Tlogo. Jika Desa Selopuro dan Sawentar, baritan digelar sebelum saat sholat Magrib. Namun untuk Desa Tlogo, digelar usai Magrib.

Tampak di Desa Sawentar, warga bersama-sama menggelar tikar di sepanjang jalan. Lokasi baritan biasanya diperempatan jalan atau simpang tiga jalan desa. Menurut Nurzamzam, perempatan atau simpang tiga itu banyak orang yang melintas atau lewat.

"Baritan itu tradisi mapak suroan. Kenapa di perempatan atau pertigaan, karena banyak orang yang lewat, jadi takirnya bisa dibagikan kepada orang yang lewat. Istilahnya untuk sedekah juga," urai Nurzamzam, warga Desa Sawentar, Senin (9/8/2021).

baritan di blitarFoto: Erliana Riady

Satu persatu warga baik pria ataupun wanita, membawa takir plontang. Satu keluarga atau rumah, biasanya membawa dua atau lebih tangkir plontang menyesuaikan jumlah anggota keluarganya. Takir plontang adalah wadah berbentuk segi empat dari daun pisang yang diisi beragam masakan menu selamatan.

Seperti sambal goreng, mie, ayam, telur tak lupa irisan mentimun. Dalam filosofi Jawa, takir plontang yang ditepinya diberi irisan janur ini, merupakan simbol melangitkan doa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh warga desa.

Takir plontang lalu ditata di atas tikar dan wargapun berkumpul untuk memanjatkan doa bersama. Jika biasanya setelah doa, tukar menukar takir dilanjutkan makan bersama. Namun kali ini, ritual itu ditiadakan.

"Doa kami, semoga wabah Corona segera hilang dari bumi Indonesia. Kita bisa diselamatkan dan kehidupan masyarakat kembali berjalan normal," jawab Fahira.

Menurut sesepuh Desa Sawentar, Sariman, dalam penanggalan Jawa, satu windu itu ada delapan tahun. Windu sendiri dibagi empat, yakni Windu Adi, Windu Kuntoro, Windu Sengoro dan Windu Sancahya.

Sejak tahun 2013 sampai 2021 itu masuk tahun Windu Sengoro (penuh musibah) dan berakhir tanggal 10 Agustus atau 1 Suro.

"Jadi setelah 1 Suro besok, kita mulai memasuki Windu Sancahya yang artinya bersinar. Semoga corona segera pergi dari bumi Indonesia. Masyarakat semua sehat selamat dan bisa kembali bekerja dengan penuh ketentraman," pungkasnya.

(iwd/iwd)