Larung Sesaji Suroan di Pantai Tambakrejo Blitar Akan Digelar Tertutup

Erliana Riady - detikNews
Senin, 09 Agu 2021 17:15 WIB
Tradisi larung sesaji Suroan tetap digelar Pemkab Blitar. Namun untuk tahun ini, acara yang digelar di Pantai Tambakrejo ditutup untuk umum.
Tradisi larung sesaji Suroan di Blitar pada 2020/Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar - Tradisi larung sesaji Suroan tetap digelar Pemkab Blitar. Namun untuk tahun ini, acara yang digelar di Pantai Tambakrejo ditutup untuk umum.

Kepala Disparbudpora Pemkab Blitar Suhendro Winarso menyatakan, tradisi larung sesaji 2021 akan dilaksanakan pada Rabu (11/8) pagi. Namun tidak dilakukan di pantai terbuka seperti tahun-tahun sebelumnya. Melainkan di dalam Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto.

"Larung sesaji Suroan kami gelar tertutup. Jumlah yang hadir juga dibatasi hanya 20 orang, itu termasuk pelaku. Kami tidak undang Forkopimda, dan kami harap masyarakat tidak mendatanginya," kata Hendro saat dikonfirmasi detikcom, Senin (9/8/2021).

Di tahun 2020, tradisi larung sesaji menyambut Tahun Baru 1442 Hijriah digelar di Pantai Serang. Yang hadir dibatasi hanya 50 orang. Namun karena pelaksanaan di pantai terbuka, tak pelak mendatangkan ratusan masyarakat yang ingin menyaksikan jalannya acara Suroan.

Untuk acara tahun ini, yang dijadwalkan hadir hanya Bupati dan Wabup Blitar, Sekda dan Kadisparbudpora. Kepala dinas dari OPD lain tidak diundang, begitu juga instansi dari jajaran samping.

Menyesuaikan pelaksanaan acara yang tertutup untuk umum, Hendro juga menjelaskan ada beberapa rangkaian ritual yang sengaja dihilangkan. Seperti kirab tumpeng lanang wadon dan pergelaran tari-tarian tradisional sebagai pembuka acara.

"Langsung ke acara inti, yakni ujub doa yang dipimpin sesepuh spiritual di sana dan larung sajinya. Itu saja," ungkapnya.

Lokasi digelarnya ritual Suroan ini akan ditutup pagar sehingga masyarakat umum tidak bisa mendekat untuk mengikutinya. Protokoler kesehatan akan ketat diterapkan dengan screening suhu tubuh, dan tes rapid antigen.

"Kami harap masyarakat bisa memahaminya, karena kondisi kita masih pandemi. Tradisi tetap digelar sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus kami panjatkan doa agar wabah ini segera berakhir," pungkas Hendro. (sun/bdh)