Round-Up

Tuduhan RSUD BDH Surabaya COVID-kan Pasien yang Berakhir Damai

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 09:49 WIB
rsud bhakti dharma husada
Saat nakes RSUD BDH diintimidasi (Foto: Tangkapan layar)
Surabaya -

Sekelompok orang mendatangi RSUD Bhakti Dharma Husada di Benowo. Mereka marah-marah. Mereka mengancam hendah membakar rumah sakit. Mereka juga mengintimidasi nakes yang sedang jaga.

Aksi sekelompok orang tersebut viral dalam video berdurasi 2.41 menit.

"Kalian kurang ajar, kalian ni bisnis, saya bakar rumah sakit ini ya. Kurang ajar kalian," kata si perekam dalam video yang dilihat detikcom, Selasa (3/8/2021).

Salah satu dari kelompok itu kemudian terlihat menampar nakes lain yang menggunakan jaket hitam. Nakes itu berusaha menutupi mukanya. Nakes itu kemudian dijambak rambutnya dan saat ditarik kepalanya membentur dinding.

Video tersebut dibingkai dalam sebuah frame. Pada bagian atas frame tertulis 'RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya Jawa Timur'. Pada bagian samping tertulis huruf kapital berukuran besar berwarna merah 'BISNIS COVID19'.

Dan di bawahnya tertulis keterangan 'Rata rata rumah sakit begini semua kelakuannya,,seenaknya orang yg meninggal didlm.rumah sakit di ponis Covid19.. padahal penyakit bawaan dr dulu emg sdh diderita pasien. Apkah tidak cukup gaji yang kalian terima sehingga orang meninggal pun kalin bisniskan ingat kalian itu bukan binatang kalian itu punya otak ayo jangan bertingkah seperti anjing'

rsud bhakti dharma husadaFoto: Tangkapan layar

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita membenarkan kejadian pada 26 Juli 2021 itu. Pihaknya telah melaporkan kejadian itu ke Polsek Benowo karena tenaga kesehatan sempat mendapat intimidasi.

"Sudah diproses di polsek. Karena melakukan kekerasan kepada SDM RSUD BDH," terang Febria.

Menurut Febria, aksi protes dan intimidasi itu karena massa menduga ada salah seorang pasien yang meninggal dan dinyatakan karena COVID-19. Padahal dalam keterangan diagnosa, pasien itu memang meninggal karena terpapar Corona.

"Tidak pernah RS meng-COVID-kan. Itu sangat menyakitkan para dokter dan para medis yang telah berjuang untuk menyelamatkan jiwa yang lain. Semua ada bukti bila menentukan diagnosa," kata Febria.

Kanit Reskrim Polsek Benowo Ipda Jumeno mengatakan bahwa memang ada pelaporan kasus tersebut. Namun kasus itu telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Menurut Jumeno, dari hasil keterangan pihak keluarga pasien, pada saat pasien meninggal sudah diketahui terpapar COVID-19 dan akhirnya meninggal. Keluarga juga sudah menerimanya.

Namun tiba-tiba sejumlah orang yang merupakan teman dari keluarga pasien kemudian salah menerima informasi dan menggeruduk rumah sakit. Bahkan dalam rekaman video yang beredar mereka juga mengintimidasi tenaga kesehatan.

"Jadi yang meninggal ini kan bibi dari Arthur. Nah si Arthur ini kan ketua paguyuban pemuda dari Ambon. Arthur ini sudah tahu bibinya meninggal karena COVID-19 dan menerima," tutur Jumeno.

"Nah, saat Arthur ini pulang dari rumah sakit setelah mengurus jenazah bibinya, tiba-tiba teman-temannya datang ke rumah sakit dan kejadian itu. Tahu itu Arthur kemudian menegur teman-temanya itu," imbuhnya.

Lalu apakah laporan rumah sakit lanjut diproses? Jumeno mengaku tidak meneruskan, karena ada kesalahpahaman dan sudah ada permintaan maaf dari keluarga ke pihak rumah sakit khususnya tenaga kesehatan.

"Ya ndak dilanjut. Kan itu ada salah paham dan keluarga pasien juga sudah meminta maaf ke rumah sakit," kata Jumeno.

(iwd/iwd)