Unair Akan Uji Tantang Vaksin Merah Putih dengan Virus Corona Varian Delta

Esti Widiyana - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 15:58 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Koordinator Produk Riset COVID-19 Unair Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Foto: Esti Widiyana/File)
Surabaya -

Varian Delta telah mendominasi serangan COVID-19 di beberapa negara, termasuk Indonesia. Vaksin Merah Putih platform Universitas Airlangga (Unair) Surabaya nantinya akan melakukan uji tantang kepada varian delta.

Namun, untuk hasilnya belum bisa disampaikan saat ini. Sebab, virus merah putih kini sedang proses uji pada hewan makaka.

"Pastinya kan belum dijawab sekarang. Nanti akan kita lakukan uji tantang, ini kan inactivated ya platformnya. Jadi Monyet yang sudah diimunisasi, nanti dia punya antibodi, nah akan ditantang untuk uji netralisasi dengan varian delta," Koordinator Produk Riset COVID-19 Unair Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih saat dihubungi detikcom, Minggu (1/8/2021).

"Karena yang varian delta ini, Unair melalui Institute of Tropical Disease (ITD) lembaga penyakit tropis sudah berhasil mengkulturkan varian delta. Kalau uji tantang, kan ditantang sama virusnya. Nah ini yang harus dilakukan di Animal BSL-3 (Bio Self Level 3) Unair, karena kita akan menantangkan si kera dengan virus," tambahnya.

Setelah itu, tim peneliti baru bisa melihat, apakah Makaka ini bisa bertahan tidak terinfeksi virus varian delta. Jika nantinya terinfeksi, maka bisa dinetralisir oleh antibodi yang dihasilkan oleh monyet makaka. Sehingga makaka bisa menetralisir varian delta.

"Ini tentunya masih dalam proses penelitian, karena makaka nya baru mulai jalan. Kan sekarang nunggu sistem imunnya dulu, antobodi ada dulu, baru bisa uji tantang. Jadi belum bisa menjawab (bisa untuk varian delta atau tidak). Tentu harapan kita tentu bisa menetralisir," ujarnya.

Nyoman mengatakan jika berdasarkan informasi dari WHO yang menyampaikan bahwa COVID-19 varian delta bisa menginfeksi orang-orang yang sudah divaksin. Tapi, gejala atau dampak infeksi, daya imun atau daya netralisir dari orang yang sudah divaksin jauh lebih baik.

"Sehingga, walaupun efikasi agak menurun, namun masih di batas minimal dari efikasi yang disarankan WHO. WHO minimal 50%. 50% ke atas kan masih layak sebagai vaksin. Saya rasa sampai hari ini belum ada yang mengkhawatirkan, masih di batas diizinkan WHO minimal 50%. Mudah-mudahan vaksin Merah Putih platform Unair juga mampu melakukan itu (menetralisir), perlu riset dan data," jelas Nyoman.

Saat ditanya apakah nantinya akan diuji tantang dengan varian lainnya selain varian delta, Nyoman mengatakan jika pihaknya mengutamakan varian delta. Sebab, varian tersebut saat ini yang sedang mendominasi.

"Sekarang varian delta hampir mendominasi, varian delta mungkin yang utama. Kayaknya delta sudah mendominasi di seluruh SARS-CoV-2. Mendominasi di Indonesia dari komunitas virus ini, varian delta yang kita utamakan untuk uji tantang," katanya.

Namun ada catatannya, yaitu, meskipun varian delta banyak beredar, jika tidak bisa mengkulturkan, maka tidak bisa diuji tantang. Sebab, tidak semua varian harus dikoleksi.

"Mengkulturkan itu tidak mudah juga, untuk menguji netralisir dari hewan yang diimunisasi. Ini bukan hambatan, ini tantangan dalam melakukan riset, kita memproduksi sesuatu yang mempunyai nilai manfaat dan kondisi yang saat ini sudah berbeda dengan tahun lalu. Makanya sejak pembaruan-pembaruan terus dilakukan, kalau ada varian baru, bisa nggak mengkultulkan untuk digunakan sebagai uji tantang. Kalau tidak bisa mengkulturkan, artinya tidak bisa melakukan uji netralisasi," pungkas Nyoman.

Simak juga 'Perkembangan Terkini Vaksin Merah Putih, Siap Diproduksi Massal?':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)