Panglima TNI Cek Penerapan Silacak di Sidoarjo dan Kabupaten Malang

Suparno, Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 20:11 WIB
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengunjungi Puskesmas Porong Sidoarjo dan dua Puskesmas di Malang, Hadi mengecek penerapan aplikasi Silacak.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengunjungi Puskesmas Porong Sidoarjo (kiri)/Foto: Suparno

Selain itu, Panglima TNI juga meminta tambahan pelatihan bagi personel yang memiliki kemampuan IT serta kerja sama dari TNI, Polri beserta Dinas Kesehatan dan penyediaan layanan kesehatan di daerah.

Namun saat dilakukan pemasukan data ini terlihat para petugas Bhabinkamtibmas dan Babinsa tampak kesulitan. Beberapa kali jaringan internet pun tak lancar sehingga terkendala pada proses input data.

"Isoter berapa lama? OTG ringan. Setelah itu apa yang dilaksanakan? Kalau sudah negatif, hari kelima akan kita ulang kembali. Nanti dibantu, bidan desa, kepala Puskesmas. Jadi konfirmasi pertama itu adalah OTG, tanpa gejala, itu entry test 10 hari kemudian exit test, kalau negatif bisa pulang. Kalau dengan gejala 10+3, laksanakan exit test, negatif, pulang," ungkap Hadi.

Sementara Kepala Puskesmas Ardimulyo, Sri Ratna Murti menyatakan, aplikasi ini merupakan bagian dari penanganan COVID-19. Di mana data real time pasien COVID-19 bisa terpantau secara langsung.

"Aplikasi itu ada dua, pertama Silacak, itu adalah aplikasi dari Kemenkes yang dibuat untuk mencatat kasus positif. Ini memang sudah ada pelatihannya. Sedangkan yang satunya, itu baru saja. Babin mengatakan baru kemarin sore. Saya juga belum pernah buka," kata Ratna Murti terpisah.

Diakui Ratna, aplikasi Silacak ini bisa memudahkan tenaga kesehatan dan tim tracing untuk melakukan pelacakan. Sebab data-data pasien COVID-19 akan lebih bisa terpantau secara langsung.

"Aplikasi ini real time, terjadi di sini, bisa dipantau dari pusat. Input data pasien konfirmasi. Kalau di desa, itu ada Bhabinkamtibmas, babinsa, perangkat desa, petugas pembina desa, jadi ada lima orang," terang dia.

"Suspect masuk. Jadi begitu ada yang positif satu, itu harus mencari, misalnya, saya, kita serumah, data semua langsung masuk. Kemudian dilakukan tes, itu terekam. Masyarakat umum tidak bisa, khusus untuk tracer. Karena harus punya akun," pungkasnya.


(sun/sun)