Round-Up

Latihan Pukulan Dada Berujung Empat Guru Silat Tewaskan Murid Perguruan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 09:08 WIB
Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Cristian Kosasih
Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Cristian Kosasih (Foto: Adhar Muttaqien)
Tulungagung -

Seorang pesilat di Tulungagung tewas saat mengikuti latihan silat di perguruan silatnya. Empat guru silat atau pelatihnya jadi tersangka dalam kasus tersebut.

Penetapan tersangka ini dilakukan setelah tim penyidik menemukan bukti yang kuat terkait adanya penganiayaan terhadap korban LFR (23), warga Dusun Ngreco, Desa Sobontoro, Boyolangu, Tulungagung. Keempat tersangka adalah ER (20), FA (17), FI (23) , dan MO (16).

"Dari empat tersangka ini ada dua yang masih anak-anak, yang anak disidik di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA)," ujar Kasat Reskrim Polres Tulungagung AKP Cristian Kosasih, Rabu (28/7/2021).

Cristian mengatakan bukti penganiayaan itu adalah hasil autopsi. Dalam autopsi itu tim dokter menemukan adanya luka pada bagian dada korban. Luka itu diduga akibat adanya pukulan yang dilakukan oleh pelatih sehingga korban tewas.

"Kemudian dari keterangan para saksi dan tersangka, diakui bahwa korban mengalami pukulan dan tendangan oleh empat pelatihnya secara bergiliran," jelas Cristian.

Cristian mengaku penganiayaan yang terjadi pada Senin (26/7) itu tidak terjadi secara terus menerus, namun sempat beberapa kali terjeda. Namun karena kondisi fisik korban tidak kuat hingga akhirnya terjatuh.

Cristian menceritakan saat itu korban sempat jatuh pingsan usai mengalami pukulan berkali-kali. Pelatih korban sempat memberikan pertolongan dengan mengoleskan minyak kayu putih ke tubuh korban, namun korban tetap tidak sadarkan diri.

Pelatih kemudian langsung mengevakuasi korban dengan melarikannya ke puskemas dengan harapan segera mendapatkan penanganan medis. Namun saat sampai di sana, korban dinyatakan telah tewas.

"Jadi memang sempat dibawa ke puskesmas, tapi nyawa korban tidak terselamatkan atau meninggal dunia saat di tengah perjalanan," lanjut Cristian.

Keempat tersangka dijerat Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan secara bersama-sama, dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Meski jadi tersangka, dua dari empat pelaku tidak dilakukan penahanan. Mereka tidak ditahan lantaran masih berstatus anak di bawah umur dan masih berstatus siswa salah satu SMA di Tuungagung. Dua tersangka yang tidak ditahan adalah FA (17) dan MO (16). Meski tidak ditahan kasus hukum keduanya tetap berlanjut.

"Karena posisinya masih anak-anak, maka peradilannya juga lain dari pelaku yang dewasa. Jadi pakai sistem peradilan pidana anak," kata Kanit PPA Satreskrim Polres Tulungagung Iptu Retno Puji

Menurut Retno, dalam proses hukum ini, polisi menerapkan wajib lapor setiap hari bagi kedua tersangka anak. Retno mengaku terkait kasus penganiayaan beramai-ramai ini, pihaknya tidak mungkin untuk melakukan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

"Karena ancaman hukuman pasal 170 KUHP maksimal 12 tahun penjara. Sehingga tidak bisa dilakukan diversi, nanti terserah hakimnya memutuskan seperti apa," tandas Retno.

Tonton juga Video: Saat Anak-anak Disabilitas Semangat Berlatih Pencak Silat

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)