Polisi Selidiki Warga Gelar Hajatan Tayub Saat PPKM Darurat di Trenggalek

Adhar Muttaqien - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 17:39 WIB
hajatan di trenggalek saat ppkmm darurat
Polisi di lokasi hajatan tayub (Foto: Dok. Polsek Panggul)
Trenggalek -

Polisi tengah menyelidiki dugaan pelanggaran PPKM darurat yang dilakukan warga Kecamatan Panggul, Trenggalek. Warga ini nekat menggelar hajatan tayuban.

Kapolres Trenggalek AKBP Dwiasi Wiyatputera mengatakan hajatan tayub tersebut digelar oleh PJ, warga Desa Ngrencak, Kecamatan Panggul. Kini kasusnya masih dalam penanganan Satreskrim Polres Trenggalek.

"Untuk penegakan hukum, kami lakukan terhadap salah satu penyelengaranya," kata Dwiasi, Kamis (8/7/2021).

Menurut Dwiasi, hajatan dengan hiburan seni tayub itu digelar oleh PJ pada Selasa (6/7/2021) malam. Kegiatan itu akhirnya diketahui oleh satgas COVID-19 di tingkat Kecamatan Panggul.

Sejumlah anggota kepolisian, TNI dan satgas akhirnya mendatangi lokasi hajatan. Namun saat sampai di rumah PJ, kegiatan baru selesai digelar.

Saat diklarifikasi petugas gabungan, PJ mengakui telah menyelenggarakan kegiatan hajatan dengan hiburan seni tayub, meskipun sedang diberlakukan PPKM darurat. Akibat kenekatannya itu PJ sempat dipanggil ke Polsek Panggul untuk menjalani pemeriksaan.

Dwiasi mengingatkan masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan serta anjuran pemerintah terkait upaya penanggulangan virus Corona. "Kami minta semua untuk disiplin, sehingga pelaksanaan PPKM darurat bisa berhasil menekan penyebaran virus Corona," imbuhnya.

Sementara itu Kapolsek Panggul AKP Budi Hartoyo, mengatakan saat ini kasus dugaan pelanggaran PPKM darurat itu telah dilimpahkan ke Satreskrim Polres Trenggalek. "Betul, memang ada yang gelar hajatan, untuk saat ini kasusnya kami limpahkan ke Polres Trenggalek," kata Budi.

Dijelaskan Budi, selama masa PPKM darurat, pihaknya bersama jajaran TNI dan pemerintah kecamatan telah meminta ke seluruh jajaran pemerintah di tingkat desa terkait agar mengingatkan warga terkait PPKM darurat.

"Boleh menggelar hajatan, tapi maksimal hanya 30 orang. Kemudian tidak boleh ada hiburan. Tapi masih ada kejadian seperti ini," ujarnya.

(iwd/iwd)