Epidemiolog Sebut Konvoi Suporter Saat Ultah Persebaya Berisiko Tularkan COVID

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 19 Jun 2021 10:00 WIB
Pakar epidemiologi asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo
Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo/Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya -

Di Surabaya sempat terjadi konvoi suporter saat ulang tahun Persebaya. Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Windhu Purnomo menyoroti hal ini.

Windhu menyebut konvoi yang terjadi mulai Kamis (17/6) malam hingga Jumat (18/6) dini hari berisiko dalam penularan COVID-19. Windhu juga mengingatkan pentingnya menjaga jarak.

Windhu mengatakan jaga jarak bisa menurunkan penularan COVID-19 hingga 85 persen. Menurut Windhu, salah satu langkah terbaik dari jaga jarak yakni tinggal di rumah saja.

"Kan begini di dalam protokol kesehatan 3M ataupun 5M, itu yang paling utama, yang paling menurunkan risiko penularan itu jaga jarak, itu nomor satu. Jaga jarak terbaik itu tinggal di rumah. Jaga jarak bisa menurunkan risiko penularan sampai 85 persen," kata Windhu kepada detikcom di Surabaya, Sabtu (19/6/2021).

Lalu, selain menjaga jarak, Windhu juga mengingatkan masyarakat pentingnya menggunakan masker. Jika menggunakan masker dengan tepat, bisa menurunkan risiko penularan hingga 70 persen.

"Baru yang kedua masker. Tapi tergantung maskernya, kalau masker medis yang bedah, bisa menurunkan risiko hingga 70 persen, tapi ini lebih rendah dari jaga jarak. Kalau pakai masker kain hanya 45 persen. Makanya yang terbaik tetap masker medis. Ada juga masker yang terbaik itu N-95 bukan KN-95, perlindungannya bisa sampai 99 persen yang dipakai nakes," paparnya.

"Kemudian baru cuci tangan, itu baru 35 persen. Dia mengurangi risiko sampai 35 persen. Artinya yang terbaik itu jaga jarak. Jaga jarak terbaik itu tinggal di rumah," tambah Windhu.

Windhu menyebut apa yang dilakukan suporter Persebaya di Surabaya itu berisiko menularkan virus. "Yang dilakukan suporter itu, apapun tujuannya, syukuran atau apa, jelas berisiko. Memang bagus dalam arti loyalitasnya, tapi itu ketika di masa yang normal, bukan pandemi. Tapi kalau di masa seperti ini sebaiknya tidak berkerumun," saran Windhu.

Ke depannya, Windhu ingin aksi seperti ini tak lagi dilakukan di masa pandemi. Karena bisa meningkatkan penularan.

"Untuk pemimpinnya, kan ada pemimpin yang informal, bisa memberi tahu, mensosialisasikan bagaimana kita ini bersikap, berperilaku di masa pandemi. Jelas ini risiko tinggi, itu bisa meningkatkan penularan," pungkasnya.

Simak juga 'Geger Video Warga Madura Rusak Pos Penyekatan Suramadu':

[Gambas:Video 20detik]



(sun/bdh)