Perjalanan Klaster-klaster COVID-19 Bermunculan di Jatim Usai Lebaran

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 16:50 WIB
Ilustrasi Tenaga Kesehatan
Foto: Ilustrasi: Fuad Hashim
Surabaya -

Pasien COVID-19 di Jawa Timur usai Lebaran 2021 perlahan mengalami lonjakan. Selain itu, ditemukan sejumlah klaster-klaster COVID-19 yang mulai bermunculan.

Salah satu klaster yang cukup menyita perhatian masyarakat yakni klaster rumah susun Surabaya. Data terbaru pada Selasa (8/6), ada 62 orang positif COVID-19 dari beberapa rusun di Surabaya.

"Kemarin terakhir (Kasus COVID-19 di rusun ada) 50. Ada lagi tambahan 12-an pasien totalnya menjadi 62," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita kepada wartawan, Selasa (8/6/2021).

Fenny, sapaan akrabnya menyebut COVID-19 tersebar di 18 rusun yang dikelola Pemkot Surabaya. Namun, jumlah yang paling banyak yakni di Rusun Penjaringan Sari.

"Yang 12 (Tambahan COVID-19 ini) tersebar. Ada rusunawa yang bersih (tidak ada kasus). Kalau di Penjaringan Sari sekitar 40-an yang kena. Paling banyak Penjaringan," jelasnya.

Selain di Surabaya, klaster hajatan ditemukan di Lamongan. Di Lamongan, warga yang meninggal akibat klaster hajatan di Desa Sidodowo Lamongan 13 orang.

Kabag Prokopim Pemkab Lamongan Arif Bachtiar mengatakan kasus COVID-19 di Desa Sidodowo, Kecamatan Modo hingga saat ini masih terkendali dengan tetap menggencarkan 3T untuk melokalisir penyebaran dan mikro lockdown.

"Kasus di Desa Sidodowo masih terkendali dengan tetap menggencarkan 3T untuk melokalisir penyebaran. Selain micro lockdown tingkat desa," kata Arif saat dikonfirmasi wartawan, Senin (14/6/2021).

Arif menjelaskan satu tambahan korban meninggal berasal dari warga yang telah swab PCR. Total tracing yang dites, menurut Arif, sebanyak 798 warga dengan total kasus akumulasi PCR dan reaktif swab antigen sebanyak 263 orang. Persentase positif dibandingkan dengan yang dites 30 persen yang jauh menurun ketika awal kasus yang mencapai 80 persen.

"Total tracing yang dites 798 warga, total kasus akumulai PCR dan reaktif swab antigen 263. Prosentase positif dibanding yang dites 30 persen, jauh menurun ketika awal kasus yang mencapai 80 persen," tandasnya.